7 Hal Penting yang Wajib Dibawa ke Thailand

Backpack ke Thailand bawa apa aja? Di sini aku mau sharing tentang barang-barang yang kubawa. Semoga menginspirasi kalian yang mau backpackeran juga.😊

1. Baju + Jaket

Really, aku ga bawa banyak barang. Kalau bisa, bawa baju satu atau dua saja(dan aku masih bingung bawa berapa, good!). Kalau kurang bisa beli di sana.

2. Hp + Charger + Colokan kaki 3 + headset + PB

Setelah baju, bawa gadget pastilah ya. Dan jangan lupa bawa colokan kaki tiga. Karena colokan di sana tidak menggunakan colokan kaki dua seperti di Indonesia.

3. Alat mandi

Pastikan jangan membawa botol yang berisi cairan lebih dari 100ml. Karena dilarang oleh pihak maskapai. Untuk alat mandi, aku bawa alat-alat mandi yang serba mini sehingga nggak makan tempat.

4. Dompet + Uang + Passpor

Untuk yang ini sih jangan sampai ketinggalan ya. Pastikan kamu sudah menukar uangmu di Indonesia sebelum keberangkatan. Kalau ternyata uangnya kurang, kamu masih bisa mengambil uang dari mesin atm yang mempunyai logo visa.

5. Make up secukupnya

Bawa yang penting-penting saja. Setidaknya, kamu tidak terlihat dekil di negeri orang. Bisa-bisa disangka imigran gelap nantinya. 😂 Hehehe. Bersikaplah seperti turis yang rapi dan wangi.😉

6. Tisu basah + tisu kering + kantong plastik

Tidak ada yang tahu medan di sana akan seperti apa nantinya, untuk jaga-jaga, dibawa saja. Siapa tahu di toilet tidak ada air🙊.

7. Tumbler

Untuk mengurangi penggunaan plastik di bumi, aku selalu membiasakan membawa botol kemanapun aku pergi. Entah di luar sana akan ada air refill atau tidak. Tumbler adalah sahabatku keliling dunia🤗

.

🌟Jakarta, 21 Juli 2019 (19.58)

Iklan

Persiapan Backpack ke Thailand

H-1 sebelum keberangkatan ke Thailand….

Aku deg-degan…Is tomorrow going to be fun day?

Harusnya sih begitu.

Ah, mungkin hanya perasaanku saja yang selalu takut dengan hal-hal yang belum terjadi.

Dari 20 mahasiswa yang mendaftar International Challenge di Thailand pada bulan Mei lalu, kini hanya menyisakan 8 orang saja. 2 orang perempuan, dan 6 laki-laki. Yang lainnya entah kenapa gugur karena satu dan lain hal.

Sebelumnya aku mungkin sudah banyak browsing info-info tentang negeri gajah putih ini. Mulai dari bahasa, kebudayaan, fakta dan mitos, makanan tradisional, dan lain sebagainya.

Berhubung aku ga dapet free bagasi, akhirnya aku memutuskan untuk backpack saja. Berangkat menggunakan bekal seadanya. Tanpa koper. Aku berusaha sepraktis mungkin dan berusaha ga ribet. Just one bag, and that’s enough for me.

Netizen: Ah serius?

Haha. Keliatannya sih satu. Aslinya tiga. Yang dua dimasukkan di tas yang besar wkwkw. 😂✌Semoga saja tasku tidak beranak pinak ketika tiba di Thailand nanti. Untuk mengakalinya, aku hanya membawa uang seperlunya saja, berusaha agar tidak digunakan seluruhnya. And I decide to bring 2000 baht. Aku menukar uangnya di temanku yang kebetulan punya uang Thailand berlebih. Dan aku dapat harga Rp450/baht dari harga asli Rp470-480/baht. Alhamdulillah hihi.

Untuk meminimalisir keterlambatan datang ke kampus, malam ini aku sengaja menginap di rumah kos temanku yang lebih dekat dengan kampus. Semoga saja bisa ontime!

.

📝Jakarta, 21 Juli 2019 (19.53)

Bisnis Masa Kecil

Hasrat atau keinginan untuk berbisnis sebenarnya sudah timbul sejak aku kecil. Aku pertama kali belajar saham dan investasi ketika aku duduk di bangku TK. Tentu saja belajar dari buku-buku yang kubeli bersama ibu ketika waktu liburan sekolah.

Masuk sekolah dasar, aku merengek-rengek kepada ibuku untuk mendirikan sebuah rental buku, dan ibuku yang notabenenya bukan seorang pebisnis pun melarangku. Katanya, aku belum cukup usia untuk melakukannya. Tapi aku tidak kehabisan akal. Dengan sabar, aku mencatat semua daftar koleksi buku yang kupunya di beberapa lembar kertas HVS A4. Waktu itu masih dengan tulisan tangan anak SD yang acak-acakan. Dengan percaya diri aku membawanya ke sekolah dan menawarkan buku-buku koleksi yang kupunya untuk disewa kepada teman-teman.

Alhamdulillah, bisnis perdanaku mendapat sambutan yang positif dari teman-teman. Banyak dari mereka yang antusias untuk meminjam bukuku dan menyewanya. Aku pun mendapatkan sejumlah uang dari situ. Meskipun uang bukan tujuan utama aku berbisnis. Karena yang aku fikirkan saat itu adalah bisnis sebuah kegiatan menyenangkan, maka aku ingin melakukannya.

Hingga suatu ketika ada seorang teman yang iri dan tidak suka kepadaku, akhirnya aku dilaporkan walikelas dan disidang di hadapan semua teman-teman sekelas. Katanya, tidak boleh melakukan perdagangan di sekolah. Aku pun menangis dan menutup bisnisku saat itu juga. []

.

Jakarta, 20 Juli 2019 (14.12)

Tempat yang Paling Disukai

Mungkin, aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah kos daripada di kampus. Rasanya, seperti homeschooling…Dan aku menikmati ini.

Menghabiskan banyak waktu di rumah bukan berarti aku tidak melakukan apapun. Setiap harinya aku selalu mencari banyak info peluang-peluang apa yang bisa aku kerjakan. Aku juga lebih fokus dan santai meng-optimasikan bisnisku dari rumah. Sebenarnya bisa saja sih aku pergi ke cafe atau rumah makan yang menyediakan layanan wifi gratis. Tapi, sepertinya kurang efektif. Mempunyai kecerdasan visual yang tinggi membuatku kurang fokus bekerja dalam keramaian. Aku butuh tempat yang tenang. Dan rumah kos adalah jawabannya.

Ketika di rumah kos aku juga ngga perlu kuatir akan keperluan ke kamar mandi dan shalat. Aku juga terhindar dari keinginan membeli cemilan yang mahal demi wifi gratisan. Ya malu dong, ke sananya lama, eh cuman beli es krim seharga 7000. Wkwkw. 7000 itu harga es krimnya. Belum bayar pajaknya.

.

Jakarta, 20 Juli 2019 (13.55)

Fakta tentang Kampus Bisnis Umar Usman

“Kuliah 1 tahun jadi pengusaha” merupakan sebuah tagline kampus kami, Kampus Bisnis Umat Usman. Tapi ada juga yang memelesetkan jadi, “Kuliah 1tahun jadi pengantin” dikarenakan banyaknya mahasiswa yang segera melangsungkan pernikahan sebelum atau sesudah purnawiyata.

Kalau bicara umur sih masih muda-muda. Di angka 20tahun an.

Mungkin bagi kampus lain, menikah muda adalah sesuatu yang dianggap belum lumrah, dan lain sebagainya. Kebanyakan dari mereka masih sibuk belajar, belum mikirin yang namanya nikah, apalagi cari kerja.

Tapi melihat angka perempuan hamil di luar nikah yang terus meningkat di Indonesia, bukankah menikah adalah sebuah cara yang paling baik untuk mereka? Bukankah menikah merupakan sunnah Rasul yang pahalanya luar biasa besar? Adalah keharusan bagi orangtua untuk menyegerakan anak perempuannya menikah ketika telah menginjak akil baligh.

Karena kampus Umar Usman adalah kampus yang bernuansa Islami, dalam beberapa trainingnya, seringkali mas Ippho Santosa bahas sedikit banyak tentang nikah muda. Mengompori para mahasiswanya untuk segera menikah. Maka tak heran, sesuatu yang menjadi bahasan/trending topic yang hangat dibicarakan oleh mahasiswa Kampus Bisnis Umar Usman adalah tentang pernikahan. Bukan lagi pacaran seperti kampus-kampus lain pada umumnya.

Mahasiswa di sini dididik untuk menghasilkan uang, dimana uang yang dihasilkan tsb digunakan untuk kemaslahatan umat dan ibadah, tak heran ketika telah lulus banyak dari mereka yang menikah. Mereka tak lagi pusing memikirkan mahar, karena uang sudah dicari bahkan sejak pertama kali menginjakkan kaki di Kampus Bisnis Umar Usman.

Semoga samawa Boss Ilham dan istri🕊😊🙏

Liburan Favorit

Liburan favoritnya anak rumahan adalah di rumah. Sebenarnya dulu waktu kecil aku sering banget jalan-jalan ke sana dan ke sini. Pergi pagi pulang petang. Jalan kaki ke Tulungagung kota(PP 4-5jam), jalan kaki mengunjungi desa yang satu dengan desa yang lain. Tapi semakin bertambahnya usia semakin malas untuk keluar rumah wkwk. Padahal dulu paling suka nih kalo jalan-jalan ke suatu tempat.

Semalas itu.

Hmmm…

Jadi jangan heran kalau aku ke Jakarta, kalo niatnya kuliah ya kuliah aja. Jarang maennya. Fokus kuliah. Mungkin karena aku tau cari uang itu ga gampang. Jadi aku menekan cost sekecil mungkin dengan menahan diri untuk tidak keluar rumah. Karena kalo keluar rumah pasti deh keluar duit minimal 50-100rb. Kecuali kalo jalan-jalannya naik angkot mulu dan ga makan. Baru bisa keluar di bawah 50rb. Atau transportnya naik krl ditambah naik ojek online yang lagi promo. Bisa menghemat budget pasti.

Entah secinta itu aku sama rumah kosan…😁 Meskipun kosnya biasa aja, alias standardlah ya. (Yang penting berjendela) aku gamau pindah-pindah kos lagi. Ngga terasa udah mau setahun aku berada di sini. Sejak rumah kostnya pertama kali dibangun hingga sekarang. Bahkan teman-teman kosku sudah 3x regenerasi (ganti orang) aku masih aja betah di kamar ini wkwkw. Maklumlah penghuni lama. Sekalinya nyaman enggan mau pindah ke lain tempat~

Gambar: pexels.com

.

🖌Jakarta, 14 Juli 2019 (09.16)

Pilih Menjadi Penulis atau Pebisnis?

Ternyata, meskipun aku kuliah di kampus bisnis, aku tetap bisa menjadi penulis. Setidaknya, menulis untuk diri aku sendiri.

Aku tidak ingin dianggap hebat dalam hal menulis. Tolong garis bawahi itu. Aku juga tidak ingin berprofesi sebagai penulis. Yang kulakukan, aku hanya ingin menyalurkan hobiku. Dan mengekspresikan diriku. Itu saja.

Tapi bagaimana kalau suatu saat hobi ini bisa menghidupimu?

Membuatmu….Bebas secara finansial misalnya? Bisa jadi kan?

Akhir-akhir ini aku disibukkan dengan bisnis yang kukira itu adalah business starku. Lalu kemudian proposalku ditolak mentah-mentah oleh dosen pembimbingku bahkan sebelum proposalku dibacanya. Aku benar-benar merasa terpukul. Shock. Dan membuatku nyaris tumbang di tempat.

Tapi kenapa Mr? Kenapa?? Kami bahkan sudah mencapai omzet 14juta dalam waktu 2 minggu!” rintihku. Ya bayangin aja, bisnis yang sudah kujalani selama 9 bulan dengan serius dan susah payah, lalu aku diminta untuk mengganti bisnis begitu saja menjelang kelulusan. Aku butuh banyak waktu untuk mematangkan konsep bisnis baru tentu saja. Dan tidak sebentar.

Syifa. Kamu itu punya potensi di menulis. Punya bakat. Terlalu sayang kalau kamu mematikan potensimu sendiri. Saya melihat, kamu sangat produktif di penulisan, sangat jarang dalam satu angkatan yang memiliki kemampuan sepertimu. Mungkin, hanya 5%nya saja. Sebenarnya bisa saja saya meluluskanmu dengan bisnis kulinermu itu. Tapi kemampuan menulis kamu tidak akan berkembang. Lebih buruk daripada itu, mungkin akan mati. Jadi Syifa, tolong, dipikirkan matang-matang.” kata Mr Arif.

Tapi tidak semudah itu membuat kegiatan menulis menjadi uang Mr. Saya butuh penghasilan yang pasti untuk biaya hidup. Dan selama ini, durian adalah solusi.”

Syifa. Kamu harus sabar. Saya sama sekali tidak memintamu untuk menghasilkan uang sekarang juga. Saya yakin kok, kamu bisa sukses dari menulis. Hanya saja, caranya saja yang belum ketemu. Semua memang butuh proses Syifa. Tidak ada sukses yang instan. Tolong, tekuni lagi menulis. Jadikan business star. Kamu boleh melakukan bisnis yang lain, tapi menulis jadikan yang utama.” nasihat Mr Arif dengan bijak, “Setidaknya, buat saya tenang telah melepaskanmu dari kampus ini.”

Seketika aku terdiam. Benar juga ya…Bukannya aku dulu sangat ingin menjadi penulis? Apa hanya gara-gara aku tidak diijinkan kuliah sastra atau jurnalistik lalu akhirnya aku putus asa dan tidak mau lagi melanjutkan menulis?

Terima kasih Mr. Baik, saya akan kembali menekuni dunia tulis menulis.” ungkapku dan pergi menyudahi sesi coaching pagi itu dengan wajah yang gamang. Bingung antara memilih bisnis durian atau bisnis tulisan. Tapi mungkin Mr Arif benar. Kalau menulis aku tekuni, pasti hasilnya bakal luar biasa suatu saat nanti.

Biarlah bisnis durian menjadi bisnis part time aku. Kalau bisnis part time bisa berkembang, aku yakin bisnis utama akan jauh lebih berkembang.

Semoga saja. []

.

Jakarta, 12 Juli 2019 (12.45)