Diposkan pada Slice of Life

Sebuah Catatan Depresi

Hari ini tumben rumah sepi. Jujur aku butuh tempat untuk menyendiri.

Aku butuh waktu untuk beradaptasi dengan keluarga baru ini. Sebuah keluarga yang sifat juga karakternya berbanding terbalik 180Β° dengan keluargaku.

Memilih untuk lahiran di Jakarta memang keputusanku. Tapi aku tidak berfikir panjang kalau semuanya akan seperti ini.

Aku kangen pulang memang, tapi sebelum itu aku juga kangen ruko. Aku pengen kembali ke ruko. 😦

Pengen menikmati hari bertiga saja, aku, suami, dan dede. Meskipun aku ngga bisa membayangkan betapa sibuknya aku mengurus dede sendirian.

Aku tak pernah menyangka akan memiliki bayi secepat ini. Di usiaku yang masih menginjak 22tahun. Tergolong muda bagiku. Mengingat kedua orangtuaku yang menikah di usia 27 tahun.

Selama di rumah mertua aku dan suamiku jarang mengobrol. Entah ada saja kesibukannya di luar sana. Sementara aku harus stress sendirian ngurus dede sama ibu mertua. Mau kesel tapi aku harus gimana. Emang dianya yang ngga peka. πŸ€•

Oke fine ngga pindah ke ruko sekarang, tapi setidaknya dengarkan keluh kesahku, bukan malah menjauh.

Mau nangis tapi ngga tau mau nangis dimana. Karena rumah ini selalu rame dan rame. Ujung-ujungnya aku pergi ke kamar mandi sangat lama, tapi izinku hanya ingin buang air kecil saja.

Mau curhat tapi ngga tau harus curhat ke siapa. Suami kaya gamau tau lagi tentangku. Dia cuma perhatian ke dede.

Kehidupan pernikahan memang berubah 180Β° setelah kamu memiliki bayi.

Sampai sini aku baru sadar kalau aku dan suamiku memang dari awal udah berbeda visi juga misi.

Kalau memang yang kamu inginkan cuma seorang anak, ambil! Lebih baik aku mati sesaat setelah melahirkan saja!

Diposkan pada Slice of Life

Kangen

Tak terasa hampir seminggu sudah aku menginap di rumah mertua. Kadang rasa kangen dengan ruko datang menyelinap. Ruko kecil tempat kami tinggal sekaligus menjalankan usaha libur selama dua minggu karena aku cuti melahirkan.

Padahal baru 5 hari, tapi ditinggal sebentar saja debu menempel dimana-mana. Tak terurus. Barang-barang juga berantakan. Rasanya jari jemari gemas ingin membereskan, tapi aku ingat kondisiku belum pulih betul.

Padahal dulu tinggal serumah dengan mertua adalah sebuah pantangan, tapi ternyata terjadi juga.

Kalau bukan kepada mertua, kepada siapa aku mau meminta tolong?

Jahitan alat vital depan samping kanan-kiri, belakang sampai ke anus membuatku nyaris tak bisa jalan. Bagaimana mungkin aku tinggal di ruko dua lantai? Aku juga masih awam banget tentang perbaby-an. Jadi, ya sudah. Akhirnya kuterima juga tawaran untuk tinggal dengan mertua. Alhamdulillah, aku dirawat dengan baik di sini sampai aku benar-benar pulih. Meskipun ya, ada banyak sekali drama yang membuatku pernah sekali menangis. Tapi cukup sekali saja, aku ngga mau sedihnya aku jadi berimbas ke anak. Lebih baik aku pura-pura happy untuk menjadi happy.

Diposkan pada Pregnancy Journey, Slice of Life

Happy December!

Wihiii, udah Desember aja yah.πŸ₯³ Ngga terasa sebentar lagi anniv pernikahan yang ke 1 tahun. Dan di bulan ini, kado terindah pernikahan kami adalah dede bayi yang akan lahir perkiraan tanggal 13 Desember. Mohon doanya ya onty dan uncle semuanya. Semoga persalinan lancar, dede dan mom sehat semuanya

Diposkan pada Uncategorized

Pernah

Pernah jatuh cinta sama seseorang, tapi aku malah menikah sama temennya. Haha yaiyalah. Waktu itu, (sebut saja mas A, seorang trainer) memang sudah beristri dan mempunyai 3 anak. Dia memang sempat mengajakku menikah dan menjadikanku istri kedua. Tapi aku tidak mau. Entah bagaimana ceritanya aku malah menikah sama partnernya di seminar yang pernah kuikuti waktu itu.

Aku sama sekali ngga tau bagaimana perasaan mas A yang sebenarnya waktu itu. Yah, bisa jadi kan dia hanya bercanda. Tapi kalau saja aku jadi menikah dengannya, mungkin saat ini aku akan mempunyai 2 adik madu. Ya, aku tak menyangka di tahun 2020, sekarang, dia sudah memiliki 3 orang istri, 3 anak dari istri pertama, dan 1 anak dari istri kedua. Dia yang dulunya kukagumi sebagai trainer terhebat, sekarang dia menjadi trainer ya, bahasa kasarnya trainer selangkangan. Dia membuat seminar poligami di berbagai kota. Dia menyediakan solusi bagi lelaki yang lemah di ranjang dan memperbisniskannya. Ah, sudahlah. Masa bodo dengan dia. Kita doakan saja semoga mereka menjadi keluarga yang bahagia dunia dan akhirat.

Sampai saat ini aku masih penasaran bagaimana nasib istri pertama. Yang telah dinikahinya semenjak mereka masih berusia 20th. Dia sama sekali tak menyinggung istri pertama di status facebooknya. Sulit sekali menemukan fbnya. Padahal dulu sebelum menikah lagi mas A selalu memamerkan kemesraannya dengan istri pertama. Sekarang yang ada di beranda fbnya hanyalah tentang istri kedua dan istri ketiganya. Hmm, bisa jadi foto istri pertama udah disembunyikan dari linimasa? Kira-kira bagaimana ya perasaannya menjadi istri tua yang dipoligami? Mengingat mas A mesra sekali dengan istrinya yang lain terutama istri kedua yang masih sangat belia.

Diposkan pada Business, Sharing

Setelah Sekian Lama Vakum…

pict by pexels.com

Lagi beradaptasi dengan laptop baru dan mouse yang nyaris ngga pernah disentuh. Daripada rebahan ria lebih baik aku nulis kan? Wahaha. Setidaknya ada sedikit cerita yang bisa dibagi. Barangkali bermanfaat untuk yang lain. 😊

Kalaupun aku ngga nulis laptop ini tetap nyala karena dipake untuk ngaktifin tools instagram yang bernama INSTAGENIC. Ya. Kita mulai lagi semuanya dari awal yah. Sudah lama vakum di dunia per-instagenic-an membuatku ingin menjelajahinya lagi.

Bagi yang belum tahu, Instagenic adalah tools yang dipakai online marketer untuk mengoptimasi akun-akun instagram bisnisnya. Fiturnya yang simple dan mudah dipahami membuatku jatuh cinta dan enggan berpindah ke lain hati. Kita cukup mensetting fitur auto follow, auto unfollow, auto like, auto dm, dll, dan kita tinggal duduk manis entah browsing atau mengerjakan hal lain. Tools ini akan bekerja secara otomatis. Asal selalu terkoneksi dengan internet, ada banyak feedback yang bisa kita dapat. Salah satunya jumlah followers yang semakin bertambah, bahkan kita bisa mengumpulkan sebanyak mungkin database calon customer karena sudah disetting untuk menghubungi admin via whatsapp. WOW! MENAKJUBKAN SEKALI BUKAN?

Sebenernya stok di ruko lagi kosong, tapi bukan berarti robot penting ini libur beroperasi. Yah, dioptimasi aja, kalau ada yang minta stok durian tinggal kabarkan kalau stoknya sedang habis, dan akan ready sesegera mungkin. Asal sudah dapat databasenya, akan lebih mudah bagi kita ngeboomnya begitu stok durian tersebut telah tiba. Bayangin aja kalo 1000 database telah terkumpul, hukum pareto minimal 20%lah calon customer itu akan membeli produk kita. Apalagi kalau mereka yang terlebih dahulu men-save nomer kita, bisa jadi mereka adalah smart buyer, bukan yang hanya CLBK, chat lama beli kagak.

Sambil menunggu durian padang pesisir, Alhamdulillah besok ada pesanan 150 botol milkshake durian. Itung-itung ngabisin bahan juga sih. Aku ngga tau lagi kapan daging durian dari petani kami di Medan akan produksi. Padahal kalau jual daging dulu sempet laku parah, tapi sayangnya sekarang stoknya lagi sulit.

Jadi keinget pertama kali dikirimin daging durian kiloan, sekalinya dateng 1000kg, wahaha. Kita kewalahan bingung jualnya karena belum punya database yang cukup. Sekarang begitu database udah terkumpul lumayan banyak di petani sudah kehabisan stok wkwkw. Sebegitu pentingnya lah peran database kontak customer untuk pelaku UMKM kewirausahaan seperti kita.

Diposkan pada Slice of Life

Bisnis keluarga

Sama seperti banner yang terpajang di depan ruko, toko kami memang secara khusus menjual durian monthong. Durian monthong sulawesi khususnya. Namun sayangnya durian monthong sulawesi tidak musim sepanjang tahun, melainkan hanya di waktu tertentu saja, yaitu sekitar bulan Februari sampai dengan Mei. Selepas itu kita harus banting setir, memutar otak untuk berjualan yang lain.

“Jualan 3-4bulan untuk hidup satu tahun”, begitulah slogan kami dalam menjalani bisnis durian ini. Selebihnya tidak menjadikan wajib untuk buka toko sebagaimana mestinya. Kalau dibilang pusing, iya, stress iya, meskipun sudah hampir 2 tahun berjalan kami masih meraba-raba pola yang tepat. Apalagi dalam menghadapi musim pandemi seperti ini, omzet toko minus hingga puluhan juta rupiah. Membuat kami harus lebih berhati-hati dalam memilih keputusan yang tepat. Meskipun minus, kami tidak menyerah begitu saja. Untung rugi itu hal biasa, yang harus kita lakukan adalah terus berusaha selagi kita masih punya akal untuk berfikir.

Ohya, sekarang kami tidak hanya berdua, melainkan bertiga, berempat, atau bahkan berlima dan berenam. Ya, kami memiliki beberapa karyawan freelance. Kenapa freelance? Tentu saja karena stok tidak selalu ada. Jadi mereka bekerja ketika toko sedang banyak stok atau durian sedang musim-musimnya.

Ngga perlu jauh-jauh mencari karyawan yang amanah dan dapat dipercaya. Adik ipar yang baru menginjak kelas 10 SMA sudah sekian bulan kami rekrut menjadi karyawan tetap toko. Ketika pagi hingga siang dia sekolah online, habis dzuhur hingga tutup toko ketika malam hari dia jaga. Alhamdulillah baik aku ataupun suami ngga lagi punya kewajiban untuk jaga toko 12 jam lamanya setiap hari tanpa hari libur. Dia juga terbantu mendapat penghasilan tambahan dan bisa mengisi waktu luang seusai sekolah dan mengerjakan tugas-tugasnya.

Lalu siapa orang keempat, kelima, dan keenam?

Tentu saja adik ipar si bungsu bisa dipekerjakan. Meskipun baru menginjak kelas 3 SD, dia bersedia untuk melakukan hal-hal kecil seperti mencuci piring, menyapu, mengepel, membuang sampah, beli makan, dll. Alhamdulillah kita happy dia pun happy karena bisa mendapat uang jajan tambahan.

Orang kelima dan keenam adalah bapak dan ibu mertua. Bapak mertua bisa melakukan apa saja, misal memperbaiki instalasi toko yang rusak, membuat meja, membuat perkakas keperluan toko, ahli keamanan toko, tapi yang lebih sering adalah menjadi kurir tetap toko karena keahliannya dalam menghafal jalan dan menjaga produk durian tetap terjaga baik dari segi packaging box atau buah duriannya. Mengingat buah durian adalah buah yang rentan asam dan mencair selama perjalanan.

Ada lagi orang ketujuh dan kedelapan. Yaitu kedua orangtuaku sendiri. Abi sebagai konsultan bisnis sekaligus komisaris, dan umi sebagai investor.

Terkadang kalau dipikir-pikir, lucu juga ya, bisnis ini seolah seperti bisnis keluarga. Dari keluarga untuk keluarga. Selebihnya untuk masyarakat, karena banyak sekali orang yang menggantungkan penghasilannya dari durian, ada yang ingin menjadi cabang, distributor, reseller, atau sekedar kurir antar barang.

Mempunyai sebuah toko sekaligus bisa tempat tinggal memang menyenangkan. Mungkin yang agak sulit adalah memisahkan keuangan bisnis dan keuangan pribadi. Aku harus lebih jeli lagi memisahkan keduanya agar keuangan bisnis menjadi lebih sehat dan tertata.

Tantangan berikutnya, menipisnya area privasi. Dulu ketika kami belum menikah, suami dengan mudahnya menjamu tamu di lantai atas, sekarang ketika sudah menikah, jujur saja aku keberatan kalau menerima tamu di lantai atas, karena lantai atas adalah kamar tentu saja. Memang karena keterbatasan dana kami belum mampu untuk menyewa ruko yang lebih luas. Cukup begini saja sudah membuat kami bisa menghemat pengeluaran. Yang mungkin belum terpikirkan, bagaimana nanti ketika sudah punya anak, dengan segala kerempongan yang ada semoga aku bisa melewati itu semua.

Diposkan pada Slice of Life

Hai!

The Journal of Kiana. Cerita remeh temeh soal kehidupan sederhana Kiana a.k.a Syifa Ulya Syahidah. Niatnya mau ganti nama asli aja tapi ngga bisa ganti judul. Yaudah deh🀣 Wkwkw…Yang mau baca silahkan, kalau tidak juga tidak masalah. 😊

Alhamdulillah sekarang di ruko kecil kami udah terpasang wifi, jadinya mulai dari sekarang ya ngga boleh males-malesan lagi buat nulis. Hahaha. Kan udah bisa ngetik di laptop. Kan udah pake wifi. Kalau dulu mager nulis karna nulis di laptop tuh berat, berat karna nyedot kuotanya banyak banget. Mau numpang wifi di McD juga ngga mungkin kalo lagi pandemi gini.

Rasanya rugi juga kalo punya wifi tapi tidak dimanfaatkan sebaik mungkin. Buat apa punya laptop, buat apa pasang wifi kalo kamunya males-malesan. Yah, semoga mulai dari sekarang aku bakal lebih rajin lagi buat belajar banyak hal, sharing banyak hal, meskipun udah bukan anak kuliahan lagi bukan berarti aku berhenti belajar. Tetep semangat!

Diposkan pada Cooking

Cara Membuat Mie Rebus ala Abang-abang yang Lezat

Hari ini aku masak tumis mie special untuk 4 porsi. Buat aku, suami, adek ipar, dan bumer. Ngga dikasih foto karna udah pada kelaperan wkwkw, langsung ludes. Lagian kalau aku yang foto maaf belum bisa se-aesthetic foto dari pustaka di atas, hihi.

Langsung aja kita ke bahan-bahan dan harganya yaa…

1. Mie Ayam Bawang 3 bungkus (2.500×3=Rp7.500)

2. Sawi 1 ikat Rp2.000

3. Telur 3 butir (2.000×3= Rp6.000)

4. Cabe, bawang merah, garam, minyak secukupnya Rp3.500

5. Air untuk merebus secukupnya Rp1.000

TOTAL: Rp20.000

Estimasi harga modal Rp5.000/porsi

Harga untuk masing-masing daerah biasanya berbeda yaa. Ini harga bahan baku di Pulogadung, Jakarta Timur.

Cara Membuat:

1. Cincang kasar bawang merah dan cabe

2. Panaskan minyak dan tumis irisan cabe dan bawang hingga harum dan layu

3. Tuangkan air secukupnya hingga mendidih kemudian masukkan telur dan sawi yang telah dipotong-potong. Taburi garam secukupnya

4. Kalau telur dan sawi sudah matang buka bungkus mie dan masukkan mie ke dalam wajan, aduk hingga mie melunak

5. Tuangkan bumbu Indomie ke dalam wajan dan aduk. Matikan kompor. Tumis mie siap disajikan

***

Sangat mudah bukan? Hihihi.πŸ˜‰ Sebenarnya aku ngga jago masak. Aku dapet ni resep dari mamas ganteng @syarif_arif_123 wkwkw. Jagoan dia daripada aku, suer deh, haha. Tapi sebagai istri yang baik ya aku harus belajar dong buat masakin dia sebuah masakan yang special meskipun hanya Indomie.

Ohya, ini mie rebus ala abang-abang warmindo loh. Rasanya ngga jauh beda deh sama yang di abang-abang. Hanya aja kalau kita buat sendiri modalnya jauh lebih murah dan ada kepuasan tersendiri setelah membuatnya.

Hihi, semoga aku lebih semangat lagi yaa masaknya, demi mamas tercinta @syarif_arif_123 πŸ˜˜πŸ’žπŸ˜