Pilih Menjadi Penulis atau Pebisnis?

Ternyata, meskipun aku kuliah di kampus bisnis, aku tetap bisa menjadi penulis. Setidaknya, menulis untuk diri aku sendiri.

Aku tidak ingin dianggap hebat dalam hal menulis. Tolong garis bawahi itu. Aku juga tidak ingin berprofesi sebagai penulis. Yang kulakukan, aku hanya ingin menyalurkan hobiku. Dan mengekspresikan diriku. Itu saja.

Tapi bagaimana kalau suatu saat hobi ini bisa menghidupimu?

Membuatmu….Bebas secara finansial misalnya? Bisa jadi kan?

Akhir-akhir ini aku disibukkan dengan bisnis yang kukira itu adalah business starku. Lalu kemudian proposalku ditolak mentah-mentah oleh dosen pembimbingku bahkan sebelum proposalku dibacanya. Aku benar-benar merasa terpukul. Shock. Dan membuatku nyaris tumbang di tempat.

Tapi kenapa Mr? Kenapa?? Kami bahkan sudah mencapai omzet 14juta dalam waktu 2 minggu!” rintihku. Ya bayangin aja, bisnis yang sudah kujalani selama 9 bulan dengan serius dan susah payah, lalu aku diminta untuk mengganti bisnis begitu saja menjelang kelulusan. Aku butuh banyak waktu untuk mematangkan konsep bisnis baru tentu saja. Dan tidak sebentar.

Syifa. Kamu itu punya potensi di menulis. Punya bakat. Terlalu sayang kalau kamu mematikan potensimu sendiri. Saya melihat, kamu sangat produktif di penulisan, sangat jarang dalam satu angkatan yang memiliki kemampuan sepertimu. Mungkin, hanya 5%nya saja. Sebenarnya bisa saja saya meluluskanmu dengan bisnis kulinermu itu. Tapi kemampuan menulis kamu tidak akan berkembang. Lebih buruk daripada itu, mungkin akan mati. Jadi Syifa, tolong, dipikirkan matang-matang.” kata Mr Arif.

Tapi tidak semudah itu membuat kegiatan menulis menjadi uang Mr. Saya butuh penghasilan yang pasti untuk biaya hidup. Dan selama ini, durian adalah solusi.”

Syifa. Kamu harus sabar. Saya sama sekali tidak memintamu untuk menghasilkan uang sekarang juga. Saya yakin kok, kamu bisa sukses dari menulis. Hanya saja, caranya saja yang belum ketemu. Semua memang butuh proses Syifa. Tidak ada sukses yang instan. Tolong, tekuni lagi menulis. Jadikan business star. Kamu boleh melakukan bisnis yang lain, tapi menulis jadikan yang utama.” nasihat Mr Arif dengan bijak, “Setidaknya, buat saya tenang telah melepaskanmu dari kampus ini.”

Seketika aku terdiam. Benar juga ya…Bukannya aku dulu sangat ingin menjadi penulis? Apa hanya gara-gara aku tidak diijinkan kuliah sastra atau jurnalistik lalu akhirnya aku putus asa dan tidak mau lagi melanjutkan menulis?

Terima kasih Mr. Baik, saya akan kembali menekuni dunia tulis menulis.” ungkapku dan pergi menyudahi sesi coaching pagi itu dengan wajah yang gamang. Bingung antara memilih bisnis durian atau bisnis tulisan. Tapi mungkin Mr Arif benar. Kalau menulis aku tekuni, pasti hasilnya bakal luar biasa suatu saat nanti.

Biarlah bisnis durian menjadi bisnis part time aku. Kalau bisnis part time bisa berkembang, aku yakin bisnis utama akan jauh lebih berkembang.

Semoga saja. []

.

Jakarta, 12 Juli 2019 (12.45)

Iklan

4 tanggapan untuk “Pilih Menjadi Penulis atau Pebisnis?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s