Menjadi Konsultan Properti di Usia 20th?!

Sebenarnya, ada sebuah rasa sakit hati yang tak terbalaskan.

Bagaimana tidak, 9 tahun mengumpulkan rupiah demi rupiah hingga terkumpul 10jt dan uangnya amblas begitu saja diduga kena kasus penipuan bodong. Tapi, aku tidak sejahat itu hingga harus lapor polisi atau menuntut ke pengadilan. Menurut aku itu bukan penipuan. Melainkan manajemen keuangannya saja yang kurang baikk. Walau bagaimana pun juga perusahaan itu telah berjasa mengajarkanku banyak hal tentang dunia bisnis. Bahkan, yang telah mempertemukanku dengan seseorang yang sebentar lagi akan menjadi pendamping halalku(aminin aja).

“Sempat dibuat percaya lalu dikecewakan”

Mungkin itulah kalimat yang tepat menggambarkan rasa kekecewaanku. Aku tidak menuntut ganti rugi, meskipun si dia memaksaku untuk segera membuat surat tuntutan ganti rugi.

Mungkin dia juga menjadi korban. Bedanya dia dulu adalah karyawan(Trainer, Ahli IT, Customer Service,dll) dan aku hanya sebagai member.

Setahun pasca perusahaan tempat aku berinvestasi itu tutup, aku sudah tidak mau lagi berurusan dengan mereka. Ibarat putus, sekali tersakiti aku tidak mau kembali lagi. Meskipun mereka selalu berusaha menarikku agar aku mau bersama mereka lagi.

Terancam hukuman penjara, CEO dari perusahaan tersebut sekarang sedang bersusah payah mencari uang milyaran rupiah untuk para member dan karyawan yang merasa dirugikan. Kebetulan beliau menjadi komisaris di sebuah perusahaan property. Dan calon suamiku ini memaksa agar aku dijadikan konsultan properti di perusahaan property itu. Yang tentu saja secara gratis.

Sebenarnya aku nggak ngerti juga, berapa uang yang harus dikeluarkan untuk mendaftar menjadi konsultan property. Yang aku tahu pasti biayanya lebih mahal daripada agen karena tingkatan agen berada di bawah konsultan.

Aku juga belum tahu untuk menjadi konsultan properti apa aja yang harus aku lakukan, katanya, “Udah. Ikutin aja. Kalau ada training km ikut ya. :)”

Ohya, dulu orang yang menjadi upline ku di perusahaan yang telah tutup itu pernah menawarkanku untuk ikut menjadi agen di perusahaan property yang sama. Investasinya untuk menjadi agen 1juta, udah free ikut kelas tiap minggunya. Dia menjelaskan, profit berjualan property itu 3% dari harga properti. Misal harga sebuah rumah adalah 1M. Maka 3%nya adalah 30juta. Dan komisi yang diterima agen sebesar 60% berarti 18juta, dipotong pajak 10%, sisa 16,2jt profit bersih untuk satu unit rumah. Itu kalau menjadi agen. Menjadi konsultan pasti komisinya lebih besar lagi.๐Ÿ˜ถ๐Ÿ˜ถ

Jakarta, 27 Januari 2019 (19.19)

Iklan

Kuliah Hari Pertama di Bulan Januari

pink and blue stadium chairs
Photo by Maria Tyutina on Pexels.com

Tadi malam aku menerima chat dari teman semasa MTs dulu. Dia menanyakan apakah aku mau ikut reunian sekaligus liburan bareng dengan teman-teman MTs. Dalam hati, “Wah, boro-boro ikut, aku aja ga pulang kampung. Wkwkw”

Ditambah aku sudah memasuki masa perkuliahan semenjak tanggal 7 Januari lalu.

***********************************

Mulai bulan ini, mau jadi anak rajin ah. Wkwkw…Aku harus selalu berangkat satu jam sebelum perkuliahan dimulai dan harus duduk paling depan.

Capek nelat mulu. Bukan nelatnya sih yang bikin capek, melainkan tugas-tugasnya yang diberikan kalau kita terlambat masuk ruangan.

Tentu saja kampusku sangat tegas mengenai keterlambatan mahasiswa. Berbeda dengan kampusku yang dulu, kalau terlambat tinggal masuk aja, tidak dikenai sanksi apapun jua.

Di saat teman-teman dari kampus lain sedang menikmati masa liburan dua bulan mereka, di sini aku sedang berjuang menuntut ilmu dan berjuang agar bisa membanggakan kedua orang tua. Goalsnya aku ingin benar-benar mempunyai usaha(misalnya kedai) dan uang yang sudah aku investasikan ke kampus(34juta) balik modal.

Kampus ini bener-bener bedaaa banget sama kampus-kampus yang lain. Aku belajar di sini adalah karena suatu kebutuhan, bukan tuntutan. Kenapa aku belajar bisnis ya karena aku butuh, bukan karena disuruh orangtua untuk kuliah, dan…ya semacamnya. Telah banyak orang yang gugur sebelum menyelesaikan masa perkuliahan satu tahun mereka. Jujur aku benar-benar merasa sedih telah kehilangan beberapa sahabat terdekatku. Tapi ya namanya juga hukum alam. Sama seperti aku dulu yang mengundurkan diri dari kampus pertamaku.

Yang membedakan Kampus ini dengan kampus-kampus yang lain, ga boros kertas/buku wkwk. Karena kuliah di sini 30% teori dan 70% praktek. Kalau mata kuliahnya digital marketing gini setiap mahasiswa diwajibkan untuk membawa laptop dan koneksi masing-masing. Jadi bisa ngeblog deh, huehue. Kalau ada materi penting yang harus dicatat tinggal dicatatat di notepad aja, ga perlu membawa buku. ๐Ÿ™‚

Dan mata kuliah di Kampus Umar Usman CUMA SATU AJA SELAMA SEBULAN. Beda dengan kampus-kampus lain yang dalam satu harinya ada beberapa mata kuliah. Tentu aja dosennya selalu sama dalam satu bulan. Tapi ga bosen juga karena kuliahnya cuman 3x seminggu. Dan kebanyakan dosennya masih muda-muda alias para alumni sendiri yang menjadi dosen. Masih sepemikirianlah ya. Sesama kaum milenial yang harus melek digital wkwkw. Cukup segini dulu karena sebentar lagi dosennya masuk. Bye bye! ^ ^

Semacam Tragedi Buku Diary

Aku menyukai dunia perbloggeran ya baru-baru ini. Baru-baru ini memantapkan niat untuk istiqomah menulis blog. Entah… menulis apapun yang aku mau.

Aku fikir, menulis blog itu sangat-sangat menarik. Kita bisa membuat rekam jejak moment-moment kehidupan kita sendiri. Yang bisa kita baca atau ulas kembali suatu saat kelak.

Dulunya aku adalah seorang penulis diary. Kini sudah hampir 6 tahun aku menulis diary. Sejak tahun 2012, buku diary part 1 mulai kutulis. Sekarang sudah buku yang ke 67. Tapi aku jarang menulisinya. Ada banyak tragedi akhir-akhir ini yang membuatku khawatir.

Tragedi Pertama

Semakin banyaknya buku diary yang kutulis, membuatku bingung ingin menyembunyikannya dimana. Pasalnya buku-buku itu sudah satu koper, mau ditaro dimanapun ya pasti bakal ketauan. Apalagi sekarang aku jauh dari rumah. Aku tidak bisa mengontrol apakah bukuku tetap aman atau tidak.

Sejauh apapun aku merantau, aku selalu membawa buku diary. Dan kukumpulkan ketika aku pulang ke rumah. Aku khawatir, bukuku akan kebaca orang kalau segitu banyaknya.

Tragedi Kedua

Beberapa minggu yang lalu, ketika aku sedang bersama calonku di Depok, ada satu pernyataan yang membuatku sedikit tertohok, “Syif. Kata umi-mu, umimu suka sekali baca buku diarymu. Sampai sekarang masih penasaran karena edisi bukunya belum tamat-tamat.” Seketika itu juga aku langsung terkejut. “Apa?”

Tragedi Ketiga

Ketika kuliah aku jaraang sekali bawa buku diary. Ga sempet buat nulisnya. Begitu aku bela-belain bawa, eh, ketinggalan di kampus. Waktu itu aku paniknya setengah mati. Semua rahasiaku ada di situ. Semua curhatanku, kejelekanku. Omaigat.๐Ÿ˜ฑ

Rasanya hampir menangis ketika kehilangan buku diary usang. Buku itu lumayan tebal. Sudah dua bulan lebih tapi belum habis-habis. Bisa gawat kalo kebaca orang. Karena di situ pun ada namaku.๐Ÿ˜ข

Hingga pada akhirnya ada seorang temen laki-laki yang bilang kalo dia nemuin buku buku itu di musholla. Terus dititipin ke temen perempuan aku. Tapi ga balik-balik hingga, mungkin dua mingguan. Sejak itulah aku jadi trauma menulis diary. ๐Ÿ˜ข

Ah, nggak trauma sih. Cuma aku jadi berfikir, sampai kapan aku akan berkembang kalau tulisanku stuck di diary aja?

Karena lebih baik aku menulis sesuatu yang bermanfaat di blog lalu membagikannya kepada semua orang. Betapa lebih bermanfaatnya daripada menulis buku galau yang tidak tahu kapan happy endingnya. Pfft. Jadi ini, alasan kenapa sepupuku, Itsnahm, berhenti menulis diary dan lebih menyukai dunia blog? Hmm.

Andai kata aku mengenal blog sedari dulu pasti aku akan menulis blog dari kelas 1 MTs. Karena pada saat itulah untuk yang pertama kalinya aku menulis sebuah buku diary. :’)

Rindu

Aku rindu…

Aku rindu dulu…

Tatkala aku dengan semangat yang membara menjalani hari

Semangat belajar…

Mengunjungi tempat baru…

Kulineran…

Backpackeran…

Ikut seminar ini itu.

Belajar memasak….dll

Aku rindu semua itu.

Sekarang?

Kuliah, nugas, santai-santai di kos, kuliah lagi, nugas lagi, santai-santai di kos lagi. Aku merasa, kok hidup aku begini-begini aja ya. Ga kaya dulu. Sebenarnya apa yang berbeda?

Aku merasa sok sibuk padahal sebenarnya lebih sering mager di kos. Aku tak lagi semangat belajar memasak seperti dulu, aku tak lagi rajin menulis diary seperti dulu, aku tak lagi sering main seperti dulu. Aku merasa ada sesuatu yang hilang dari dalam diriku.

Aku rindu diriku dulu yang penuh semangat.

Bukan pemalas seperti ini.

Apa yang salah?

Apa yang berbeda?

Apa yang membuatku berubah?

๐Ÿ˜”๐Ÿ˜”๐Ÿ˜”