Memusnahkan Keranjang Pakaian Kotor

keranjang
Hanya contoh dari Google. Aslinya warna ungu dan sudah dimusnahkan.

Akhir-akhir ini saya mempunyai hobi baru.

Yaitu…Bersih-bersih ketika libur kuliah.

Mulai dari mencuci pakaian setiap kali mandi pagi ketika libur kuliah.

Semenjak jadwal kuliah di hari Senin-Rabu yang sangat amat padat saya tak memiliki kesempatan lagi untuk meluangkan waktu mencuci baju. Karena khusus di tiga hari yang amat spesial itu saya hanya ingin FOKUS BELAJAR dan berpikir bagaimana caranya saya bisa menghasilkan uang untuk setoran profit di kampus tercinta.

Entah sejak kapan saya seperfectionist ini. Ketika bersih-bersih ya harus totalitas. Semua dibersihkan. Mulai dari ranjang, lemari, lantai semua harus bersih. Bahkan kolong ranjang pun tak jarang disapu dan dipel karena sangat sering berdebu.

Untuk mencuci, dulunya saya berfikiran, tak semua baju harus dicuci. Boleh ditaruh keranjang dulu. Takutnya lemari ga muat. Tapi sekarang, saya suka mencuci baju rutin mulai dari kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Ga harus banyak. Yang penting rutin. Awalnya sangat tersiksa ketika harus dipaksa mencuci baju. Apalagi mencuci sprei, mukena, rok jeans, yang sangat berat sekali dicucinya begitu kena air. Tapi lama kelamaan saya mulai menikmati aktivitas sederhana ini. Ada kepuasan tersendiri ketika pekerjaan telah rampung dan, ‘tidak ada sehelai kain pun tersisa di keranjang baju kotor’. Hehe

Dengan luas kamar yang sangat minimalis ini saya harus pintar-pintar meletakkan barang agar kamar tetap leluasa dan tidak terasa sempit. Saya pun juga mengurungkan untuk mencari teman sekamar, karena memang yaa…Tempat yang sangat terbatas.

Saya pun mempunyai ide, bagaimana kalau keranjang baju kotor dimusnahkan saja?? Soalnya udah jelek banget keranjangnya. Bolong-bolong. Mungkin usianya udah satu tahun sejak dibeli. Jadi ketika ada baju kotor langsung masukkan ember saja dan langsung dicuci ketika mandi.

OKE BERES! Mulai berkuranglah benda yang membuat kamar ini menjadi lebih luas. ๐Ÿ™‚ Tapi seberapapun luas kamar saya, saya harus tetap bersyukur masih memiliki tempat tinggal yang sangat nyaman. Karena di luar sana ada banyak sekali orang yang bahkan tidurnya saja beralaskan bumi beratapkan langit.

Intinya itu aja sih. Harus tetap bersyukur dengan kondisi yang sekarang dipunyai agar tetap bahagia. Karena kebahagiaan saya tidak diukur oleh harta maupun omongan para netizen, melainkan saya sendiri yang menentukan.ย  ๐Ÿ™‚

Jakarta, 26 Januari 2019 (09.05)

Iklan

Persiapan Magang

Apa yang kamu pikirkan tentang magang?

Kalau aku, magang itu…

Adalah BELAJAR YANG DIBAYAR.

Dimana-mana kalau yang namanya belajar pasti bayar kan? Kalo nggak gitu gratis. Tapi beda dengan magang. Magang bertujuan agar kita bisa terjun langsung ke lapangan sambil menerapkan ilmu-ilmu yang sudah kita pelajari di sekolah/kampus. Magang juga menjadi cara kita untuk belajar langsung kepada orang yang benar-benar sudah menjalankannya, bukan sekedar belajar teori saja di kampus.

Magang akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan pasti. Apalagi aku memilih tempat yang sama sekali belum pernah kukunjungi sebelumnya. Dimanakah itu??

BANDUNG!

Yeah! Di Bandung! ๐Ÿ˜€ Tentu saja aku memilih tempat yang jauh sekalian biar mendapat pengalaman yang BENAR-BENAR BARU. Ga asik ah kalo magang di Jakarta doang. Apalagi sendiri. Huhu. Tahu kan, sendirian itu ga enak…Mending rame-rame. Hihi. ๐Ÿ™‚ Dimana sih magangnya? Diย Dino Donutsย Bandung. ๐Ÿ™‚

Sebenarnya Dino Donuts ga cuman di Bandung aja. Tapi di Jakarta, Tangerang, Bekasi pun ada. Hanya kebetulan kami ditempatkan di Bandung. Dan ga masalah.

Mungkin kampusku beda dengan magangnya kampus-kampus lain. Karena di kampusku proses magangnya hanya sekitar 1 bulan saja. Tepat di bulan Februari. Aku bersama 7 orang temanku berencana ngekos di sana.

Sebenarnya bisa aja magang di outlet durian seperti yang pernah aku rencanakan. Tapi…kurang jauh ah. Aku dapet lampu hijau sebenarnya untuk magang di Kedai Duren Wakroban Jakarta Barat. Tapi jauh banget dari kosan. Mahal di ongkos, capek di jalan, belum macet-macetan di kereta. Wedew. Mending kalau ada temannya. Akhirnya akupun memutuskan untuk magang di Bandung aja. Mumpung…Diizinkan untuk pergi keluar Jakarta wkwk. Udah sumpek. Sekali-sekali kek jalan-jalan keluar Jakarta. Sambil berenang minum air. Sambil magang bisalah sekalian jalan-jalan. Heuheu. #anakkostkurangpiknik

 

Jakarta, 20 Januari 2019 (18.05)

 

Kuliah Hari Pertama di Bulan Januari

pink and blue stadium chairs
Photo by Maria Tyutina on Pexels.com

Tadi malam aku menerima chat dari teman semasa MTs dulu. Dia menanyakan apakah aku mau ikut reunian sekaligus liburan bareng dengan teman-teman MTs. Dalam hati, “Wah, boro-boro ikut, aku aja ga pulang kampung. Wkwkw”

Ditambah aku sudah memasuki masa perkuliahan semenjak tanggal 7 Januari lalu.

***********************************

Mulai bulan ini, mau jadi anak rajin ah. Wkwkw…Aku harus selalu berangkat satu jam sebelum perkuliahan dimulai dan harus duduk paling depan.

Capek nelat mulu. Bukan nelatnya sih yang bikin capek, melainkan tugas-tugasnya yang diberikan kalau kita terlambat masuk ruangan.

Tentu saja kampusku sangat tegas mengenai keterlambatan mahasiswa. Berbeda dengan kampusku yang dulu, kalau terlambat tinggal masuk aja, tidak dikenai sanksi apapun jua.

Di saat teman-teman dari kampus lain sedang menikmati masa liburan dua bulan mereka, di sini aku sedang berjuang menuntut ilmu dan berjuang agar bisa membanggakan kedua orang tua. Goalsnya aku ingin benar-benar mempunyai usaha(misalnya kedai) dan uang yang sudah aku investasikan ke kampus(34juta) balik modal.

Kampus ini bener-bener bedaaa banget sama kampus-kampus yang lain. Aku belajar di sini adalah karena suatu kebutuhan, bukan tuntutan. Kenapa aku belajar bisnis ya karena aku butuh, bukan karena disuruh orangtua untuk kuliah, dan…ya semacamnya. Telah banyak orang yang gugur sebelum menyelesaikan masa perkuliahan satu tahun mereka. Jujur aku benar-benar merasa sedih telah kehilangan beberapa sahabat terdekatku. Tapi ya namanya juga hukum alam. Sama seperti aku dulu yang mengundurkan diri dari kampus pertamaku.

Yang membedakan Kampus ini dengan kampus-kampus yang lain, ga boros kertas/buku wkwk. Karena kuliah di sini 30% teori dan 70% praktek. Kalau mata kuliahnya digital marketing gini setiap mahasiswa diwajibkan untuk membawa laptop dan koneksi masing-masing. Jadi bisa ngeblog deh, huehue. Kalau ada materi penting yang harus dicatat tinggal dicatatat di notepad aja, ga perlu membawa buku. ๐Ÿ™‚

Dan mata kuliah di Kampus Umar Usman CUMA SATU AJA SELAMA SEBULAN. Beda dengan kampus-kampus lain yang dalam satu harinya ada beberapa mata kuliah. Tentu aja dosennya selalu sama dalam satu bulan. Tapi ga bosen juga karena kuliahnya cuman 3x seminggu. Dan kebanyakan dosennya masih muda-muda alias para alumni sendiri yang menjadi dosen. Masih sepemikirianlah ya. Sesama kaum milenial yang harus melek digital wkwkw. Cukup segini dulu karena sebentar lagi dosennya masuk. Bye bye! ^ ^

PERTAMA KALI KE MCD SENDIRIAN

mcd
Pertama kali makan sendirian di McD

Mungkin aku beruntung.

Ngekos di sebuah tempat yang dekat dengan McD.

Ya, seenggaknya kalo aku gabut aku bisa ke sini dan bisa internetan gratis sepuas yang aku mau.

Haha. Tapi itu hanyalah wacana dari dulu. Sudah dari dulu aku ingin menyempatkan waktu untuk menulis di McD tapi baru terealisasikan sekarang. Itupun aku udah telat 1,5 jam dari waktu yang telah direncanakan. PARAH!

Awal kenapa tiba-tiba aku mau ke McD adalah tadinya aku abis minta film sama temen kampus. Janjian jam satu, jam dua lebih baru berangkat. HAHA. Kalo libur magernya ga ketulungan. -_-”

Well, aku sangat berterima kasih sekali sama temanku itu. Karenanya aku jadi juga untuk menulis di McD. Hihi.

Kenapa sih kepengen banget nulis di McD?

Memangnya apa yang spesial?

Pertama, wifi gratis, soo, tentu aja aku bisa menghemat sedikit pengeluaran bulanan.

Kedua, gatau kenapa ide mengalir deras ketika aku berada di sebuah tempat yang jarang aku kunjungi sebelumnya.

Padahal kosan aku dekeeet banget sama McD, tapi aku ke sini bisa dihitung jari. Maklumlah ya, anak kosan. Wkwk. Sekalinya ke sini cuman pesen minuman doang. Tapi tidak untuk hari ini. Aku pesen satu paket ayam spicy extra large plus lemon tea. Di sisa-sisa uang yang kupunya.

Awal bulan memang, tapi lagi bokek karena belum dapat kiriman.

.

McD Jati Padang, 16.02 WIB

 

5 Kebahagiaan Sederhana

pink green and yellow ribbon illustration
Photo by Ylanite Koppens on Pexels.com

Sebenarnya ada banyak hal yang bisa membuatku bahagia.

Untuk hal-hal yang sederhana saja membuatku bahagia. Seperti:

  1. Menikmati secangkir kopi latte di pagi hari yang sejuk

Sebenarnya ritual ini sudah kulakukan sejak lama. Sampai aku lupa kapan pertama kali aku memulainya. Hmm…

Mungkin, sejak aku mondok di MBI(Madrasah Bertaraf Internasional) Pacet Mojokerto Jawa Timur. Waktu itu meminum kopi adalah suatu keharusan bagiku. Meskipun hanya setengah sachet. (Wkwk. Mau minum kopi aja harus hemat) Setiap hari aku pasti membuat kopi. Mau pake air dingin kek, mau pake air anget kek, ga masalah bagiku. Yang penting minum kopi. Karena ya, taulah. Pondokku sangat ketat dan luar biasa padat jadwalnya. Jam 02.30 dini hari sudah bangun dan bergegas ke kamar mandi. Karena aku tipikal orang yang lebih baik bangun awal daripada ngantri mandi. Meskipun aku tahu air pegunungan luar biasa dinginnya. Tapi kutempuh itu biar fresh ketika pengajian shubuh, ga ngantuk lagi. Tentu saja didukung oleh setengah sachet kopi yang kubuat di pagi hari. Oya, dulu karena ingin praktis aku membuat kopinya di plastik es lilin yang kecil itu. Lebih sering pake air dingin. Dan rasanya semacam minum es kopi di pagi hari. Aku merasa hariku lebih produktif ketika meminum kopi. :’)

Atas alasan itulah, ritual itu masih berlaku sampai sekarang.

Bisa dicoba sendiri di rumah, bagaimana sensasi minum kopi hangat setelah shalat shubuh sambil melakukan kegiatan yang produktif, seperti menulis blog, belajar, dll. Dulu setelah aku menjalankan ritual kopi aku sangat rajin menulis di pondok, di tengah-tengah kegiatan yang super padat. Dalam satu bulan bisa abis 2-3 buku.

2. Nonton Film

Jadi kenapa sih, aku suka nonton film?

Karena dengan nonton film aku bisa mempelajari sebuah kehidupan.

Sama seperti para remaja yang lainnya. Aku juga sangat menyukai hiburan yang satu ini. Ketika lelah dengan tugas-tugas, atau jadwal kuliah yang padat, biasanya weekend aku habiskan untuk menonton film. Dan karena aku adalah anak kost, jadi, aku lebih suka nonton filmnya ya di kosan aja. Pake hape. Streaming. Ga mahal kok. Cuman Rp10.000 doang bisa nonton sepuasnya di IFLIX selama satu bulan. Wihii. Seru sekali bukan. Wkwk. Dijamin puas deh. Dan kuotanya luber-luber. (KARENA GA MUNGKIN AKU SATU BULAN ITU NONTON DOANG KAN) Kapan-kapan aku bikin review beli kuotanya dimana ya. ๐Ÿ™‚

3. Menulis

Entah itu menulis di blog, atau menulis di buku diary aku sama-sama suka. Dan keduanya masih aku jalankan hingga sekarang.

Aku itu bukan seorang yang pandai menulis aku bilang. Aku hanya menyukai menulis. Aku tak suka jika ada orang lain melabeli diriku sebagai penulis karena memang tulisanku tak sebagus itu. Kalau ada yang bilang tulisanku bagus, mungkin itu hanya kebetulan. ๐Ÿ™‚

4. Mendengarkan Musik

Sebagai seorang yang introvert, aku tak suka mendengarkan musik tanpa headset. Ketika aku mendengarkan musik, aku merasa ya, inilah duniaku. Aku suka musik. Meskipun aku tak pandai bermain musik. Dulu, waktu kecil, ingiiin sekali belajar bermain piano, gitar, dll. Tapi karena tak ada yang mengajari…ya, sayang sekali impianku bermain musik kandas.

Aku adalah penikmat musik, baik itu musik lama atau baru.

5. Nonton Youtube

Dulu aku suka sekali nonton tv. Tapi sekarang setelah ada youtube, jadi lebih suka youtube wkwk. Ya gimana enggak, hape sangat praktis bisa dibawa kemana-mana. Bisa nonton dimana aja tanpa ribet-rebet club. ๐Ÿ™‚

Dan lagi, di kosan nggak ada TV. Jadi satu-satunya pengusir sepi ya nonton youtube. Ada banyak sekali hal-hal inspiratif yang bisa diambil di youtube.

Sampai saat ini aku masih suka penasaran sama youtube. Yang gaji youtuber ngalah-ngalahin PNS/ orang yang kerja kantoran. Kalo orang jaman dulu mah, cita-citanya mau dokter, polisi, guru, dll. Tapi sekarang? Pekerjaan yang cocok untuk generasi milenial adalah jenis-jenis pekerjaan yang fleksible, penuh kreativitas, dan ga jauh dari sosial media. Misalnya menjadi youtuber, selebgram, bisnis online, dll.

Atta Halilintar misalnya. Gajinya ditaksir mencapai 600juta rupiah tiap bulannya. Dan terus bertambah seiring dia membuat konten-konten baru yang menghibur/bermanfaat.

Kira-kira apakah teman-teman di sini tertarik untuk menjadi youtuber? Atau cukup puas menjadi blogger saja? Hihi.

Aku sih ga muluk-muluk. Suatu saat nanti pengin punya 1jt subs dan mendapat gold button aja udah seneng haha(padahal bikin video aja belom). Bagaimana denganmu? Share di kolom komentar ya! ๐Ÿ™‚

 

Jakarta Selatan (19.54)

Syifa Ulya Syahidah

3 Alasan Kenapa Lebih Memilih Tinggal di Jakarta Daripada Pulang ke Rumah

high angle view of cityscape against cloudy sky

Bagi seorang perantau, pulang ke rumah akan menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri, dan semacam terapi jiwa setelah 1 semester belajar dengan tekun di tanah perantauan.

Tapi, apa jadinya kalau Jakarta sudah kuanggap sebagai rumahku sendiri??

Liburan akhir tahun ini, aku memutuskan untuk tidak pulang ke rumah.

Mungkin, telfon keluarga di rumah sudah cukup bagiku.

Kalau dibilang, lebih sayang uang daripada keluarga kan ga mungkin juga. Ada sesuatu hal yang harus aku urus mustinya kenapa aku memutuskan untuk tetap di Jakarta.

  1. Mau ikut kegiatan kindness campaign di Banten.

Semacam kegiatan sosial untuk membantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Kemungkinan ke sana awal Januari nanti. Untuk hal ini, tentu saja aku ga bisa pulang.

2. Harga tiket yang melunjak

Bukan rahasia umum kalau harga tiket akhir tahun harganya sangat mahal. Ya, meskipun aku menjadi agen tiket, harganya masih di atas rata-rata. Daripada sering pulang naik kereta nih, lebih baik pulang setahun sekali naik pesawat. Hmm…Ya bayangin aja, siapa yang ga encok duduk di kereta 12 jam lamanya. Itu pun baru sampai Surabaya. Setelah itu harus nyambung naik bus 4 jam lamanya dan akhirnya bisa tiba di rumahku tercinta. Ohya, aku juga suka mabuk kalau naik bus ber-AC. Dan tiba-tiba kejang ketika ketiduran di bus(wakwk). Jadi, aku harus berfikir 1000x apakah aku memutuskan pulang naik bus atau tidak.

3. Waktu Liburan Hanya 2 Minggu

Kalau nggak salah harga tiket bus/kereta sudah mencapai 300-an ketika aku cek kemarin. Pulang pergi bisa jadi 600-an. Dengan tugas yang bejibun rasanya lebih baik aku menghemat pengeluaran, dan stay di Jakarta untuk menyelesaikan tugas-tugasku.

Aku sudah tahu sejak lama kalau kuliah di Umar Usman bakal diberi tugas yang sangat banyak. Seperti tidak diperkenankan untuk libur sebelum lulus. Ya wajar sih, dengan biaya kuliah yang semahal itu, cuma 1 tahun pula, pasti kejar-kejaran dengan waktu. Harus bisa menjadi pengusaha sukses hanya dalam satu tahun. Ngeri juga sih.

Mungkin, aku akan sangat merindukan ritual pergi ke toko buku bersama ibunda tercinta ketika liburan. Aku mohon maaaf sekali belum bisa pulang. Tahun depan Insyaallah. Aku akan pulang. Setelah wisuda. Sekalian lamaran. :’)

Rasa-rasanya aku akan menjadi penghuni tetap warga Jakarta nantinya. {}

 

Jakarta Selatan (17.42)

Syifa Ulya Syahidah