Posesif?

Perasaan semacam takut kehilangan dan cemburu yang berlebihan.

Sebenarnya baik ga sih posesif itu?

Kalau itu merugikan diri kita sendiri ya ga baik.

Aku baru tahu kalo selama ini aku itu orangnya posesif.

Ya kamu paham gak sih, posesifnya orang introvert itu gimana?

Menyiksa banget. Seharusnya aku percaya sama dia. Dan perkara yang tidak kusukai seharusnya aku bicarakan baik-baik sama dia.

Itulah salah satu penyebab kenapa aku putus dengan mantan-mantan aku. Hanya karena aku cemburu dengan orang yang dekat dengan si dia, dengan semudah itu aku mengucap kata PUTUS.

Solusinya gimana?

Ya, jangan pacaran.

Eh, aku ga pacaran loh ama si doi yang sekarang. Tapi kami mempunyai komitmen untuk nikah. Dan, ga nyangka aja. Udah 6 bulan lebih deket, dan bisa bertahan sampai sejauh ini.

Aku yakin dia telah dewasa, dan aku telah dewasa. Ayolah, jangan bertingkah kekanak-kanakan lagi. Kalo serius ya serius. Jangan pas lagi sayang-sayangnya malah ditinggal pergi .🙊Menurut aku itu kekanak-kanakan banget sumpah.

Aku merasa, dia ini milik aku seutuhnya. Dan ga boleh ada satupun perempuan yang deket sama dia. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, kok aku egois ya?

Sebelum kami bertemu aku punya duniaku sendiri, dia punya dunianya sendiri. Jangan sampai setelah kenal aku dia kehilangan dunia yang dia punya sebelumnya.

Seharusnya aku juga percaya sama dia. Kalo dia akan setia. Kadang kocak juga aku tanpa sadar suka ngecek-ngecek isi hpnya dia, ngecek tasnya dia, dompetnya dia(padahal ga ada apa-apa), loh kok…

Padahal dia aja ga sebegitunya sama aku. Dia ga pernah securiga itu sampai harus mengoprek-oprek isi hp aku, dan lain sebagainya.

Aku tahu dia cemburu ketika aku dekat sama cowo lain, tapi dia ga pernah mengakuinya. Dia juga mengizinkan aku chat dengan siapa aja.

Terima kasih atas kepercayaannya.❤

Iklan

Indekost

colors garden grass lawn
Photo by Mikes Photos on Pexels.com

Nggak terasa sudah 4 bulan lamanya aku pindah ke Perumahan Karang Pola, Jaksel. Dulunya sih, pindah-pindah kosan wkwk. Selama setahun entah berapa kosan yang pernah kujelajahi. Hingga akhirnya aku menemukan yang cocok.

Bukan sebuah kosan yang bagus.

Tanpa AC.

Tanpa WIFI.

Kamar mandi luar.

Ukuran hanya 3x4m.

Bukan sebuah kosan yang bagus. Tapi aku bersyukur bisa tinggal di sini.

Harga sewa Rp650.000 sebulan itu udah termasuk murah banget menurutku.

Why?

Karena kosan sepi, tidak terlalu ramai. Satu kosan hanya 5 orang. Kamar mandi bersih. Ada dapurnya. Ada jendelanya. Wkwk. Jadi keinget rumah tanpa jendela. Ngga enak juga ya, kalo kamar ga ada jendela. Sumpek! Untung aja ga jadi ambil kamar yang ga ada jendelanya. Meskipun lebih murah, tapi ya. Lebih baik yang ada jendelanya lah ya.

Kalian tau ga sih? Tinggal di perumahan itu SEPIII banget. Aku juga baru tau kalau ternyata di perumahan ada orang yang membuka kos-kosan. Lampu penerang jalan tidak terlalu banyak. Jam 8 malam aja udah SEPIII banget. Kek udah jam 12 malam aja. Padahal di kosan sebelumnya, jam 11 malam itu masih rame.

Yang aku suka di sini itu, di sini DAMAI. Nggak kaya kosan sebelumnya yang di Cakung Jakarta Timur. Aku bener-bener tertekan banget tinggal di sana. Ibu kos yang killer, tetangga yang suka gosip. Nggak enak banget pokoknya deh. Aku juga kena fitnah di sana. Bahkan aku pernah ada niatan kabur dari kosan gegara ibu kosnya kaya rentenir. Katanya sebelum aku pindah aku harus bayar kosan lagi. Kan gak masuk akal.

Alhamdulillah ibu kos yang di sini buaek banget. Hihi.

Sejauh ini aku betah tinggal di sini. Mungkin aku akan pindah nanti abis wisuda.

Sebenarnya aku sempat ditawarin kosan yang sewa perbulannya lebih murah dari yang di sini. Cuman 350rb udah FREE WIFI lagi. Tapi berdua. Itu yang membuatku sedikit keberatan.

Tinggal berdua itu nggak enak.

Aku udah pernah merasakannya.

Lebih baik aku tinggal sendiri dan membayar lebih mahal.

Teman-teman di kampus bahkan sampai kasian sama aku. Tinggal sendiri. Padahal I’M FINE. Aku bahagia dengan kesendirianku. Aku justru ga nyaman ketika tinggal berdua, atau bahkan lebih. Karena pada dasarnya aku orangnya introvert. Butuh lebih banyak waktu untuk sendiri.

Ketika tinggal berdua aku merasa tak bebas. Aku kehilangan waktu me-time ku.

Nggak ngerti kenapa ya, aku merasa nggak nyaman kalo berbicara lebih banyak. Aku lebih suka berbicara seperlunya. Tapi bukan berarti orang introvert itu ansos. Sesuka-sukanya dia menyendiri dia masih butuh teman apalagi sahabat. {}

Jakarta Selatan, 16.33 WIB

Ini Pendapat Saya Tentang MLM

MLM(Multi Level Marketing) adalah salah satu bentuk pemasaran produk suatu perusahaan berbentuk jaringan piramida. Semakin banyak downline nya yang aktif, maka passive income yang didapatnya semakin besar dan seemakin besar. Mungkin ini yang disebut sebagai penggandaan uang.

Dari mengikuti bisnis ini, saya belajar tentang cara memasarkan produk, cara meng-closingkan prospek, cara public speaking, dan lain sebagainya.

Umumnya prospek(calon downline) diminta berinvestasi sejumlah rupiah untuk mendapatkan produk tertentu untuk dijual. Hal ini sah-sah aja. Selama tidak merugikan kedua belah pihak maka hukumnya boleh.

Pertama kali saya mengenal MLM adalah pada saat saya masih berusia 19tahun. Saat itu adalah saat ketika saya baru lulus SMA dan saya baru pertama kalinya datang ke Jakarta seorang diri. Saya belum mengerti bisnis, dan rasa keingintahuan saya pada saat itu begituu besar. Untuk yang pertama kalinya saya mengikuti seminar MLM produk minuman di Depok berinisial M.

Perjalanan bisnis saya tidak berhenti sampai di situ. Saya jatuh bangun memperjuangkan bisnis saya. Sampai suatu ketika teman-teman saya yang ditawarin ikut MLM oleh seseorang yang tak dikenal curhat ke saya. Seolah-olah saya adalah Master of MLM. Padahal tidak. Saya hanya pernah mengikuti sebagian atau beberapa. Setidaknya pernah terjun langsung daripada mereka yang baru pertama kali. (Mungkin shock)

Dan saya menyadari saya banyak gagalnya pada waktu itu. Tapi, saya juga mendapat banyak pelajaran berharga dari situ.

Ciri khas dari MLM adalah:

1. Diiming-imingi bonus yang menggiurkan

2. Reward

3. Cara create profit nya ada dua: Menjual produk dan mengajak orang lain untuk ikut bergabung

4. Yang mengajak disebut sponsor/upline. Yang diajak disebut prospek/ downline. Si upline ini mempunyai kewajiban untuk membina downline-downline nya sampai sukses di bisnis tersebut.

5. Biasanya rutin diadakan seminar MLM di hotel atau di gedung. Berbayar ataupun gratis.

6. Setiap prospek yang ingin menjadi member diwajibkan untuk membeli paket lisensi kemitraan/keanggotaan.

7. Kebanyakan leader memprospek dengan cara hardselling atau buying customer. (Mungkin karena kepepet waktu kali ya😂) Karena ada beberapa perusahaan yang menerapkan sistem tutup point. Kalau tidak bisa mencapai jumlah sekian maka bonusnya akan hangus.

8. Kebanyakan pelaku bisnis MLM lebih suka invite orang untuk ikut bisnisnya karena keuntungan dari situ lebih besar daripada menjual produk itu sendiri.

9. Upline akan mendapat passive income ketika downline nya mengajak orang. Atau downline nya downline nya mengajak orang. Atau downline nya downline nya downline nya mengajak orang. Begitu seterusnya hingga membentuk jaringan piramida.

10. Dll

Kata dosen saya, Mr. Roni: “Kalau kamu ingin sukses dalam bisnis Multi Level Marketing(MLM), ikuti saja workflow nya, sistemnya, seminarnya. Maka kamu akan sukses! Kalau kamu ingin menjadi seorang business owner, maka di sinilah tempatnya(Kampus Bisnis Umar Usman)” 🙂

Eh. Jadi iklan kampus🙊

Youtuber

Assalamu’alaikum temen-temen^^

Hehe. Jadi keinget gaya salamnya Kak Ria Ricis. Wkwk. Khas banget. Udah pada tahu kan siapa kak Ria Ricis? Itu loh, youtuber nomor satu di Indonesia.

Ngomong-ngomong soal youtuber nih, btw gue juga pengen jadi youtuber sebenarnya. Soalnya gue dulu sukaa banget bikin video gitu. Gue juga suka tuh bermonolog, ya, ngomong-ngomong sendiri gitu. Wkwk. Padahal aslinya kalo ngomong di depan publik gue belum berani. Nah, ini kesempatan bagi gue buat memperkenalkan diri ke orang-orang. Waktunya gue buat berkreasi dengan konten-konten seru dan gokil.

Ohya, gue juga ga nyangka banget gue sekelas ama youtuber. Namanya Bang Rafdi Muhammad. Suka bikin video konspirasi gitu. Menarik sihh. Subscribernya ya, udah bisa dibilang lumayan soalnya udah memenuhi persyaratan kalo misalnya mo pasang iklan.

Menariknya ketika kita jadi youtuber adalah:

  1. Kita bisa berbagi inspirasi kepada banyak orang. Bisa jadi sarana dakwah juga
  2. Kita bisa dapet penghasilan tambahan dari iklan
  3. Dikenal dengan banyak orang
  4. Bisa menyalurkan ide, bakat, dan kreativitas
  5. Untuk mengaktualisasikan diri

Itu dia guys. Kenapa gue tertarik jadi youtuber. Hehe.

Video pertama gue adalah video traveling gue di Pantai Kedung Tumpang Tulungagung. Viewnya baru nyampe 70 aja gue girang banget hihi. Gimana enggak, itu video pertama gue. Hehe. Nama channelnya adalah nama gue sendiri: Syifa Ulya Syahidah.

Ya mungkin lo ngga nyangka aja. Etdah. Serius Syifa mau jadi youtuber?? Secara kata orang gue pendiem dan pemalu. Eh kok gue ngedengerin apa kata orang ya. Gue ga diem kok sebenarnya. Gue bicara ketika perlu aja. Gue lebih banyak action daripada sekedar ngomong bullshit.

Untuk saat ini gue lagi disibukkan kuliah dan bangun bisnis. Di sela-sela kegiatan itu gue menulis. Ya. Menulis buku diary atau menulis di wordpress seperti sekarang ini. Rencana gue mau belajar editing sama temen gue yang jago edit itu. Yah, selama ada teman yang bisa dimanfaatkan kenapa tidak?? 😀

Personal Branding

Sebenarnya kita tidak harus memberitahukan diri kita itu siapa. Tidak perlu digembar gemborkan “Ini loh, gue.” Ngga banget. Plis. Yang penting kita berkarya. Biarkan kualitas yang berbicara. Ntar kalo karya lo bagus, tanpa lo beritahu orang lain, orang lain juga bakal tahu kok.

Yang harus kita waspadai adalah jangan membuat karya yang kualitasnya jelek. Karena karya kita harga diri kita. Begitu juga dengan bisnis. Bisnis kita adalah harga diri kita. Jangan sampai kita mempromosikan kejelekan kita. Kalau karya/bisnis kita jelek, padahal sebelumnya lo bilang kalo itu bagus, jatuhlah harga diri lo. Orang ga bakal percaya lagi sama lo!

Biarkan kualitas yang berbicara. Ketika orang puas dengan karya lo, dia akan menceritakannya kepada 5 orang teman terdekat dia. Tapi kalo hasilnya sebaliknya, dia akan menceritakan kejelekan karya lo kepada 20 orang teman terdekat lainnya! Gawat sekali kan?

Never Stop Writing

jurnal

Saya suka sekali menulis. Sejak saya SD kelas 5 cerita saya sudah mulai diterbitkan di berbagai majalah. Tentu tak lepas dari bimbingan ibu saya yang tanpa kenal lelah mengajari saya menulis dan membaca.

Saya senang sekali, saya terlahir dari keluarga yang suka menulis dan membaca. Dengan begini, saya bisa mengembangkan bakat dan kreativitas saya dalam menyongsong peradaban. Hehe..(ceilah, bahasanya :p)

Bahkan, saya lebih senang, lebih betah berlama-lama di toko buku daripada di toko baju. Rasanya kalo di toko baju, baru 5 menit saja udah pegel2. Ga heran baju saya sedikit sekali. Di pondok cuma punya 7 stel, itupun lebih baik daripada di rumah, yang mana sih yang masih disebut layak tuh? Lebih banyak lusuran daripada beli sendiri. Ya, begitulah. Saya lebih senang dengan kesederhanaan ini. Gapapa baju saya sedikit. yang penting otak saya ga kelaparan. :’)

Entah kenapa, menulis itu sudah menjiwa dalam tubuh saya. Melebur dalam partikel menjadi satu, yaitu saya. Dimanapun saya berada, saya sll tak lepas dari buku dan pulpen. Lebih dari itu, saya sekarang punya kebiasaan baru. Yaitu selalu membawa tas mungil kemana2. Itu hadiah pemberian dari…ehm, ibu baru saya. Berjaga-jaga kalau ada waktu kosong saya bisa memanfaatkannya dengan menulis dan membaca. 🙂

Lebih dari sekedar mendapat hadiah2 kecil dari menulis di majalah, menulis dapat membuat tenang, damai, lega.

Apalagi semenjak saya bersekolah di pondok pesantren bertaraf Internasional itu, kegemaran saya menulis malah semakin menjadi2. Rasanya, ide tak bisa berhenti mengalir dari kepala. Meskipun berada di tengah2 jadwal yang luar biasa padat, justru menulis adalah cara saya untuk berlibur. Simple bukan? 🙂 Semoga hobi menulis ini bisa tertular ke semuanya. Karena lebih bermanfaat daripada kita gunakan waktu kita untuk ngobrol ke sana kemari, atau bahkan ber ghibah, itu sangat tidak bermanfaat, bukan? 🙂

Saya tahu, saya bukanlah siapa2. saya bukan gadis yang popular, multitalent, dan sebagainya. Tapi dengan secuil kegemaran ini semoga bisa mengubah pemikiran tentang dunia. Diambil dari sudut pandang baru seorang gadis kecil yang sedang mengelana menuntut ilmu di sebuah pedalaman.

Kemampuan menulis saya masih belum seberapa dibandingkan mereka2 yang sudah menerbitkan bukunya ke penjuru negri. Tidak, saya saat ini masih sedang berproses. Saya tidak akan mengambil resiko secepat itu untuk menerbitkan sebuah buku.

Pengalaman saya ditolak penerbit bahkan rasanya berkali-kali lebih sakit daripada putus cinta(haha). Hal itu menyadarkan saya bahwa saya tidak boleh gegabah. Saya menulis bukan untuk menjadi populer, ingin dikenal banyak orang dengan menerbitkan buku, bukan??  Oleh karena itu, saya berusaha untuk sabar dan terus mengembangkan kemampuan menulis.

Salah satu contohnya dengan menulis buku catatan semacam journal atau diary. Kemudian buku  catatan itu di share ke banyak orang untuk dibaca dan ditanggapi. Rasanya ada sebuah kelegaan di dalam hati melihat orang bisa tertawa ketika membacanya. Emang selucu itukah? Senang juga ketika mereka suka dengan apa yang saya tulis dan selalu meng-update cerita apa saja yang baru saja selesai ditulis. Makasih, buat kalian yang sudah membaca bukuku dan menanggapinya.

Awal mula format buku yang saya tulis adalah bentuk diary. Tapi…hmm…kalau hidupnya berada di pondok rasanya susah deh menjaga keprivasiannya. Pasti banyak sekali yang kepo. Kenapa saya terlalu menikmati menulis sampai2 menganggap saya sudah berpindah ke lain dunia, bukan di dunia nyata lagi. Apalagi kalau ceritanya ditulis di sebuah buku yang menarik, sehingga dapat menarik siapa saja untuk segera berkunjung membacanya. Jadi, lama kelamaan saya merubah formatnya menjadi bentuk journal. Buku yang bisa dibaca oleh siapa saja tanpa pandang bulu.  Yang dapat memberi pencerahan, memotivasi, berbagi ilmu pengetahuan, dan pengalaman. Mereka juga saya perkenankan untuk coret-coret di buku  saya. Berbagi kisah, komentar, itu adalah sesuatu yang menyenangkan. Itu artinya, tulisan yang saya tulis bermanfaat. Tidak untuk disimpan dan dinikmati sendiri. Saya pun juga bisa dapat pahala apabila tulisan saya bermanfaat untuk mereka.

Sampai saat ini, saya sedang menulis buku yang ke 45. Saya mulai menulis buku ini sejak saya kelas 2 MTs dan tidak pernah berhenti. Rata2 saya bisa menyelesaikan 2 buku tipis dalam sebulan, atau 1 buku tebal untuk sebulan.

Lama2, karena banyak yang order dibikinkan cerita, saya tu jadi mikir. Oiya ya. Kenapa saya nggak mempublikasikannya saja di internet? Mengingat yang ingin membaca cerita saya tidak hanya dari kalangan teman2 putri di pondok. Oke…maka saya pun mulai menulis di blog ini. 🙂

Dalam menulis, saya tidak peduli. Entah tulisan saya jelek atau tidak, yang penting, saya tetap menulis. Karena kesempurnaan dalam menulis akan lahir dari setiap detik ketika saya berproses.

Sebelumnya, ketika teman-teman belum membaca tulisan saya, saya merasa minder dan malu dengan apa yang saya tulis. Tapi kemudian, karena teman-temanlah, saya pun berlatih untuk berani menulis di depan publik.

Suatu saat, setelah saya mahir, saya akan benar-benar menerbitkan sebuah buku yang dulu tertunda untuk diterbitkan. 🙂  []