Bisnis Perpustakaan

Dulu, saking cintanya sama buku aku sampai buat perpustakaan kecil-kecilan di rumah. Beli almari yang besar-besar. Kira-kira sejak masih SD aku mempunyai ide untuk membuat bisnis perpustakaan. Tapi sayangnya ga dibolehin sama ortu karena aku masih sekolah dan takut ngga ada yang ngurus. Jadinya aku mendata semua buku yang kupunya dan kutulis tangan. Ketika di sekolah aku beranikan diri untuk menawarkan jasa penyewaan buku kepada teman-teman. Ga nyangka ternyata banyak sekali yang berminat. Mungkin karena melihat aku suka baca buku kali ya, jadi tertular. Wkwkw.

Ketika SMP, aku mendata ulang semua bukuku, tapi kali ini kuketik lewat komputer. Jadi tulisannya menjadi lebih rapi. Harga sewanya sangat murah meriah. Karena memang kusesuaikan dengan budget anak sekolahan. Sebenarnya ketika kecil aku tidak terlalu terobsesi mencari uang, namanya juga masih anak-anak. Tapi entah kenapa kegiatan berbisnis itu terasa sangat menyenangkan. Semenyenangkan saat kita bermain game. Tapi kali ini game-nya menghasilkan uang beneran. Bukan uang mainan seperti main monopoli. Wkwk.

Kalau disuruh memilih, lebih memilih beli buku atau baju, tentu saja aku memilih buku. Aku sangat ga betah di toko baju lama-lama. Sebaliknya, aku bisa tahan seharian di toko buku sampai ditinggal orangtuaku pulang wkwkw.

Suatu saat, ketika sudah menikah aku akan membuat bisnis perpustakaan dan kuliner yang menjadi satu. Kalau tau konsep book cafe, yaa seperti itulah kira-kira. ^ ^ Bismillah Insyaallah tahun 2024 aku sudah mendapatkannya.

Dan,

satu lagi.

Aku ingin brand Book Cafe itu adalah “KIANA”. 🙂

book-cafe-book
Contoh dari Google

.

Jakarta, 19 Februari 2019 (10.39)

 

Iklan

Bob Sadino Kedua

white ceramic cup with liquid inside on white saucer
Photo by Pixabay on Pexels.com

Aku lebih suka memanggilnya Pak Bob. Mengingatkanku dengan salah seorang tokoh entrepreneur idolaku. Siapa lagi kalau bukan Bob Sadino. Aku suka dengan berbagai pemikiran eksentriknya. Jauh-jauh datang dari sebuah desa yang ada di Jawa Timur, untuk menemui Om Bob di Kemang Jakarta Selatan. Tapi setelah ke sini ternyata beliau sudah meninggal. Konyol memang. Tapi begitulah kenyataannya.

Kini, aku tinggal tak jauh dari Kemang. Dan berkuliah di sini. Berkuliah di sebuah tempat yang mengajarkanku tentang cara berjualan. Sangat berbeda dengan kampus-kampus yang lain. Kampus ini mengajarkanku kalau mendapat profit lebih banyak jauh lebih hebat dari sekedar mendapat score 4 di nilai IPK. Nggak pernah ada ceritanya Kampus Bisnis Umar Usman memberi hadiah kepada mahasiswa yang memiliki nilai IPK paling baik. Yang ada, yang terbaik dalam berjualan itulah yang layak mendapat hadiah dan penghargaan. Hal ini tentu saja memacu para mahasiswa untuk berlomba-lomba mendapatkan profit paling banyak. Bukannya belajar tentang bisnis melulu tapi giliran buka usaha nggak bisa.

Mungkin, aku tidak bertemu dengan Bob Sadino versi asli. Tapi aku bertemu dengan Bob Sadino versi Kedua. Dan kebetulan saja namanya mirip. Wkwkw. Yang lebih kerennya lagi, ternyata beliau juga sama mengidolakan Om Bob Sadino. Jadi sudah pasti kami memiliki pemikiran yang sama dalam beberapa hal.

Aku tidak pernah merencanakan sebelumnya akan bertemu dengan Pak Bob. Bahkan dari awal aku sudah berencana untuk magang di Bandung. Tepat akhir bulan Januari, setelah pendaftaran magang ditutup, akhirnya aku berubah pikiran. Entah kenapa semesta seperti tidak mengijinkanku untuk berangkat ke sana. Aku pun meminta maaf kepada pihak manajemen dan meminta saran dimanakah tempat magang properti yang terbaik. Dan akupun direkomendasikan untuk magang di PT Genesis Indojaya. Awalnya sempat khawatir, karena aku belum pernah terjun di dunia properti sama sekali. Berbekal keinginan yang kuat, akhirnya akupun mengiyakan tawaran untuk magang di sana dan bertemu dengan Pak Bob. Seseorang yang dengan kesederhanaannya selalu menginspirasiku dalam berbagai hal. {}

.

Jakarta, 14 Februari 2019 (15.16)

Tempat Magang Terbaik

18-office-park-tb-simatupang.jpg

Kalau di tempat lain magangnya hampir setiap hari dan diberi banyak tugas layaknya karyawan, tidak dengan PT Genesis Indojaya. Jangankan diajarkan perihal teknis, tapi yang Mr Bobby utamakan adalah pembelajaran tentang Mindset Pengusaha Muslim, Leadership, dan Teamwork.

Aku fikir, ketika magang kami akan bekerja full time di sebuah perusahaan, bantu-bantu apapun yang bisa kami bantu layaknya pembantu. Tapi nyatanya tidak. Karna kami benar-benar diperlakukan layaknya seorang Entrepreneur. Kami lebih diajarkan tentang mindset seorang pebisnis(baca:boss), tentang leadership, dan juga bagaimana membangun tim. :’)

Padahal, andaikan dipekerjakan seharian full aku siap. Ternyata magang part time. Selebihnya kami dituntut untuk belajar sendiri. Karena belajar itu wajib. Tidak harus di kampus, tidak harus di tempat magang, tapi dimanapun, dan kapanpun.

.

Jakarta, 7 Februari 2019(13.37)

Magang Ternikmat

meeting-room

Hari ini tepat hari keduaku magang.

Kesan pesanku hari ini…

Ternyata magang properti itu ga seseram yang aku bayangkan sebelumnya. Justru, sangat menyenangkan sekali haha. Bagaimana tidak, datang ke sebuah gedung bertingkat yang sangat megah, dimana ketika mau naik lift tinggal tap-tap kartu saja. Sampai ruangan meeting langsung disambut oleh pegawai dan menyajikan secangkir minuman hangat untuk menemani pertemuan kita kali ini. Aku rasa…Mungkin inilah yang dinamakan, “Magang Rasa Meeting“. :’)

Di sana kita belajar tentang banyak hal. Tidak melulu properti. Bahkan tentang properti belum pernah dibahas sama sekali. 

Mr Bobby adalah orang yang pandai bercerita. Beliau juga orang yang sangat sholeh. Setiap kali meeting kami selalu mendapat pencerahan tentang akhirat. Beliau menekankan, “Utamakanlah akhirat…akhirat…dan akhirat. Karena kalau ketika kau utamakan akhirat, maka Allah akan memudahkan segala urusanmu.”

Intinya, apapun yang kamu lakukan di dunia, niatkan untuk akhirat. Niatkan agar Allah cinta dan memasukkanmu ke dalam surga Firdaus.

Kalau yang berkata adalah orang seperti Mr Bobby, aku benar-benar percaya kalau apa yang dikatakannya adalah benar adanya. Karena Mr Bobby sudah membuktikan kekuasaan Allah kalau kita mengutamakan-Nya maka urusan kita akan dimudahkan. Masyaallah. Jangan ditanya berapa gaji beliau saat ini. Pasti besar sekali.

Yang paling mengejutkan, kami hanya mengadakan pertemuan 2-3x dalam seminggu. Dan setiap pertemuan hanya 2 jam saja karna beliau orang yang sangat sibuk tapi tetap meluangkan waktu untuk menebar kebaikan.

.

Jakarta, 7 Februari 2019 (13.15)

Beberapa Alasan Kenapa Jarang Menulis Diary Lagi

bind blank blank page business
Photo by Pixabay on Pexels.com

Welcome Februari!!! 😀 Yuhuu…#ahtelat

Iya ya. Baru nyadar udah ganti bulan aja. Cepet amat heheu. Entah kenapa aku udah jarang(hampir ga pernah) nulis-nulis di buku lagi kek dulu. Ada banyak faktor.

Yang pertama, harga buku dan pulpen di Jakarta mahal heuheu. Kalo di kampung pulpen 2500 udah dapet bagus, di Jakarta 5000-7000 dong. Apalagi buku. Jangan ditanya.

Yang kedua, aku paling ga suka kalo ada orang yang lancang membaca buku diaryku. Yah. Plis deh. Yang namanya buku diary ya jangan dibaca gitu loh. Kan kesel. Sekalian aja nulis blog biar semua orang baca. #yhaa

Yang ketiga, kalo dulu aku paling betah yang namanya nulis di buku berjam-jam. Kayanya zaman sudah mulai bergeser dimana generasi milenial paling ga bisa jauh-jauh dari gadget. Yah, you know lah what’s I mean. Heuheu.

Yang keempat, malas menulis rapi. Entah kenapa ya, aku orangnya perfectionist banget. Udah gitu melankolis lagi. Jadi kalo nulis diary ya, kalo nulis ga rapi kadang suka kesel. Haha. Padahal males nulis rapi dari dulu.

Yang kelima, koper usang berisi buku diaryku udah full pake banget. Kalo aku nulis buku diary lagi mau ditaruh mana? Nyembunyiin buku diary yang banyak jumlahnya kan susah:( Gampang banget ketauan.

Jadi itulah beberapa alasan kenapa aku udah mulai jarang banget bawa buku diary kemana-mana. Kalo nulis bisa di gadget kenapa enggak gitu loh. Jadi ga usah bawa barang banyak-banyak. Cukup hp/laptop udah lebih dari cukup. Multifungsi malah. Dan ga perlu takut tulisan jelek. Ohya, menulis di blog ternyata memang jauh lebih mengasyikkan daripada sekedar menulis diary. Dulunya aku pemalu banget, nulis aja kakunya masyaallah. Haha. Harapan aku sih, semoga aku lebih terampil lagi dalam menulis, semoga bisa bermanfaat untuk banyak orang, semoga dengan menulis ini aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. 🙂 Aamiin.

.

Jakarta, 2 Februari 2019 (07.42)

Inilah Perjalanan Bisnisku

Ada salah seorang teman di kampus yang, aku fikir dia dari golongan orang berada. Uang bukanlah sebuah masalah baginya. Tapi ketika kuliah di kampus bisnis, otomatis mau nggak mau dia harus jualan. Apapun yang bisa dijual. Dulunya ia jualan jam tangan branded yang harganya sangat mahal. Lalu ketika dia menemui kendala dalam berjualan, akhirnya dia terpikir untuk berjualan snack ringan harga lima ribuan dengan tujuan agar cepat perputaran uangnya. Dan pada saat itu dia minder luar biasa. Sangat kentara dari mimik wajahnya. Lalu ada seorang kawan yang berkata, “Nggak papa jualan snack. Namanya juga usaha kan bro. Yang penting menghasilkan.”

Apa yang dialami temanku ini sangat berbanding terbalik dengan apa yang kualami. Dari jualan makanan under 100k lalu beralih ke penjualan properti harga ratusan hingga milyaran rupiah wkwkw.

Tentu saja di penjualan properti ini aku masih sangat awam pake banget. Kalo kata orang Jawa, “Gak ngerti blass”. Karena emang aku keturunan keluarga guru, bukan pengusaha properti. Aku hanyalah seorang perantau yang punya cita-cita ingin menjadi pengusaha properti. Ga salah tho? Hehe.

Perkuliahan bulan pertama(September), aku ingin usaha masker spirulina.

Karena untungnya jualan gede. Minimal 50.000 per sekali closing. Tapi saat itu setelah tahu kalo masker spirulina adalah produk MLM, semangatku jadi ciut hehe. Aku ga ingin jualan sesuatu yang sudah ada sistemnya. Ga seru. Dan itu bukan termasuk alasan kenapa Umar Usman itu ada. Kata dosen aku, “Kalau kamu mau jualan produk yang sudah bersistem, lebih baik ikutin saja cara bisnisnya, seminarnya. Insyaallah kamu akan sukses. Tapi kalau ingin menjadi seorang Business Owner yang sukses, maka Kampus Bisnis Umar Usman tempatnya! :)”

Dari kalimat itu aja udah jelas kalau visi Kampus dan perusahaan MLM sama sekali berbeda. Jadi itulah alasan kenapa saat ini aku menghindari bisnis rekrut merekrut karena memang ya, sayang udah bayar kuliah mahal kalo ilmunya ga kepake.

Setelah berbisnis masker, aku beralih ke bisnis travel pada bulan Oktober 2018. Sebenarnya sudah lama berbisnis travel. Tapi mau dihidupkan kembali. Tapi semakin lama aku merasa kurang cocok di bisnis travel. Karena resiko dunia pertiketan itu sangat besar. Salah sedikit aja akibatnya bisa fatal. Kalau travelling adalah hobi maka bisa jadi bisnis ini adalah bisnis yang bagus dan sangat menjanjikan. Tapi kalo jarang?? Hmm…

Mulai bulan November 2018 akhirnya aku punya bisnis yang sampai saat ini masih konsisten kujalani. Yaitu bisnis Pancake Durian. Bisnis ini adalah bisnis yang kujalani berdua. Jadi kalo yang satu lagi down, satunya bisa menyemangati. Begitu seterusnya, hingga akhirnya bisnis ini menjadi bisnis yang paling awet hehe. :’) Nantinya mau bikin kedai durian Insyaallah. Doakan^ ^

Akhir bulan Januari adalah masa-masa penentuan magang.

Aku sebenarnya bimbang. Mau magang dimana?

Di bidang apa?

Kuliner, properti, atau jasa tulis?

Kita bahas satu persatu ya.

1. Jasa tulis/ content writer

Jasa tulis/content writer memang sebuah pekerjaan yang tak jauh dari hobiku, yaitu tulis menulis. Tapi masalahnya aku hanya menulis di saat mood, sementara menjadi content writer pasti menuntut untuk konsisten menulis setiap hari di waktu-waktu tertentu. Dan, menjadi content writer bukan tujuanku kuliah di Kampus Bisnis karena aku ingin menjadi Business Owner. Aku sangat menghindari sebuah pekerjaan yang berbau karyawan. Karena aku bukan orang yang suka diperintah dan tidak betah bekerja di bawah tuntutan. Menyusun sebuah konsep dan ide-ide bisnis adalah sebuah pekerjaan yang sangat kusukai.

2. Properti

Meskipun masih ‘baru’ di dunia properti aku mempunyai semangat yang tinggi untuk mempelajarinya. Karena telah terhasut buku Rich Dad Poor Dad karya Robert T Kiyosaki. Menurutnya, bisnis properti adalah bisnis yang sangat menjanjikan. Karena harga properti selalu naik setiap tahunnya. Dan kalau ingin mempunyai arus kas orang kaya, kamu harus bisa menciptakan penghasilan dari kolom aset yang kamu ciptakan(passive income). Menciptakan passive income bisa darimana saja. Misalnya menulis buku, menjadi youtuber, pemilik usaha bisnis, pemilik properti yang disewakan, dan masih banyak lagi.

Kalau kata Pak Agus Piranhamas, “Cara tercepat menjadi kaya adalah menjual sesuatu yang dibutuhkan orang kaya.”

“Kalau ingin cepat kaya jangan menjual sesuatu untuk orang miskin. Karna kebanyakan orang miskin, sudah dikasih harga murah masih nawar lagi.” wkwk. LOL.😆

3. Kuliner

Seperti yang sudah disebutkan di awal, aku ingin mempunyai kedai pancake durian. Konsep kedai yang instagrammable dan kekinian kabarnya akan menjadi bisnis yang trend di tahun 2019-2021. Kedai ini sangat cocok untuk para remaja yang sedang hunting spot bagus untuk foto, cocok juga untuk para pecinta durian yang ingin menikmati durian di tempat yang nyaman. Selain itu kedai ini juga menyediakan banyak buku bagus yang disusun berjajar di rak-rak kayu. Jadi selain bisa menikmati berbagai olahan durian, setiap pengunjung yang datang ke kedai ini dapat membaca buku apapun yang mereka inginkan. Sebuah perpaduan yang sangat kusuka. Kuliner dan buku yang bisa dibisniskan. 🙂

Kira-kira untuk membuat sebuah kedai seperti yang aku inginkan membutuhkan budget sekitar 100juta. Karena belum ada, sekarang buat Fanpagenya aja dulu, buat Instagramnya aja dulu. Jualan aja dulu. Nah, nanti dari profit itu semua buat kedai kecil-kecilan(minimal ada freezer dan sebuah ‘pasar’). Nggak langsung besar. Mulai dari yang terkecil dulu. Nanti lama-lama menjadi besar asalkan mau tekun dan gigih.😊

Nah, oleh karenanya, agar cepat mendapatkan modal(minimal untuk membeli freezer) aku akan berjualan properti. Lalu bagaimana cara agar bisa membuat sebuah kedai yang bagus? Nanti kedepannya aku akan survey satu-satu kedai terbagus yang ada di Jakarta. Insyaallah bisa, dan nggak harus magang di kedai durian. lebih baik fokus tentang cara menjual properti yang efektif terlebih dulu. Kalau menjual properti bisa, profitnya bisa langsung digunakan untuk mencicil membuat kedai impian.😊

Ohya, kini untuk berbisnis ngga usah jauh-jauh cari bahan baku lho. Nggak usah bolak balik sana sini, cukup buka Ralali.com dan kita bisa menemukan berbagai supplier tangan pertama yang terpercaya. Memilih supplier terpercaya tentunya akan berpengaruh pada kualitas produk, harga, dan layanan penjualan bisnis yang kita jalankan.😊{}

.

Jakarta, 31 Januari 2019 (19.43)

Tentang 10 Years Challenge

Tentang 10 years challenge yang lagi viral. Pengen sebenernya ikutan. Tapi…Hmm. GA PUNYA FOTO AKU WOY. Gimana dong? Hahah.

Yah. Ga seru dong!

Gini…Gini…

Pertama kali aku punya hape itu waktu MTs kelas 1. Itupun juga dapetnya karena hadiah rangking 3 besar. (Waktu itu rangking 2). Pernah merengek-rengek minta hape sejak SD tapi ga dibolehin. Sampai akhirnya sepupuku kasian sama aku dan akhirnya dikasi hape bekas, mereknya Nokia yang versi tebel. Waktu itu aku da seneng buanget. Meskipun gada koneksi internetnya tapi bisa buat main game wkwk.

Mts Kelas 1 akupun akhirnya punya hape sendiri. Merknya Blueberry, warna putih dan harganya cuma 300rb free Ice Cream 1 box lagi. Wkwk. Belinya di Indomaret. Jadi pertama kali punya hape itu tahun 2012. Dan saat itu pulalah pertama kali aku mendaftar facebook. Namanya Syifa Ulya.

Aku sampe ngubek-ngubek facebook lamaku itu, tapi sama sekali ga ada foto lama. Paling lama adalah foto tahun 2008. Begini penampakannya…

kenangan

Entah pakai hp siapa waktu itu. Saat itu aku masih polos-polosnya. Belum kenal hape. Belum kenal kamera. Belum kenal cowo. Belum kenal dunia maya! BENAR-BENAR POLOS DAN BELUM TERKONTAMINASI. :’) Pakai baju aja masih dipilihin sama orangtua aku. :’) #belumadapilihan

Kira-kira sekitar umur 10tahun. 10 tahun yang lalu. MASIH KURUS wkwk.

Fotonya kecil amat yak? Ini nih yang besar…

waduk

Perkenalkan. Ini adalah keluargaku.

Mulai dari yang paling kanan: Tante Ani, Om Habib, Adhim (sepupuku), Rijal (adiknya Adhim), Abi, Bulek Lilik , aku (kerudung putih)Itsna (sepupuku) , Faris(adiknya Rijal) dan anak-anaknya om: Anggi, Sasi. Kita semua udah gede sekarang. Hehe.

Jadi itulah penampakanku 10 tahun yang lalu. Nggak ada imut-imutnya sama sekali. Berhubung aku males gabunginnya, ini penampakanku 10 tahun kemudian dari 2008, saat berumur 20 tahun:

gw

Oke cukup sekian. Hihi.

Jakarta, 20 Januari 2019 (19.07)