Introvert

pink rose focus photo
Photo by Lucas DC on Pexels.com

Sebenarnya aku bukanlah orang yang biasa jalan-jalan ke sana dan ke mari. Aku anak kupu-kupu. Alias kuliah-pulang-kuliah-pulang. Aku hanya pergi keluar bersama orang yang benar-benar dekat denganku. Kalau tidak, it’s just wasting time for me. 

Ada banyak hal yang bisa aku lakukan ketika aku sendiri, yang pastinya menurut aku lebih berguna dibandingkan kongkow-kongkow bersama teman dan hedon di mall yang satu ke mall yang lain.

Aku begitu penuh energi dan bersemangat ketika aku sendiri.

Se-introvert itu memang.

Ketika aku mencoba untuk berubah menjadi ekstrovert, aku merasa energiku terhisap habis, dan pulang dengan tubuh yang lelah, padahal seharian aku tidak melakukan sesuatu yang berat. Hanya ngobrol dan bertemu dengan orang saja.

Aku begitu menikmati kesendirianku. Ketika aku sendiri, aku merasa jauh lebih fokus dan produktif menjalani hari. Tapi meskipun demikian, selalu ada porsi untukku bersosialisasi dengan orang lain, meskipun tak sebanyak porsi yang dimiliki orang esktrovert.

Lalu bagaimana kalau aku berjodoh dengan orang ekstrovert?

Apakah aku tetap diam atau justru menikmati suasana kebersamaan? []

.

Jakarta, 12 Juli 2019 (11:46)

 

Iklan

Selamat Tinggal, Mager!

Hmmm… Sumpah ngga nyangka banget. Ini bener-bener detik-detik aku mau lulus kuliah. Ngga terasa ya, udah tinggal sebulan lagi kuliahnya. Satu atau setengah bulan lagi. Dan aku rasa itu akan terasa cepat sekali nantinya. Fyi, aku wisuda awal atau pertengahan September nanti. (aamiin)

Rasanya jantungku dag-dig-dug udah kaya genderang mau perang. Mikirin bisnislah, mikirin investor, mikirin tugas akhir, mikirin target yang dibuat oleh dosen, mikirin persiapan nikah… #eh. Yang terakhir bercanda deng…

Seharusnya ngga perlu dipikirin ya? Ya dikerjain aja atuh. Gitu aja kok repot. Tapi ya gimana ya, kalo udah kena penyakit mager susah sembuhnya. Tapi di situ aku mikir, “Syif, bentar lagi lu lulus kuliah. Mau sampai kapan lu mager kaya gini, Syif? ”

“Syif, katanya lu mau nikah. Kalo mager terus-terusan gini, rumah tangga macam apa yang mau lu bangun, ha?”

Iya juga ya. Dan aku pun bangkit lalu membenahi semua kekacauan yang ada. Bersihin kamar, nyuci baju yang telah menumpuk, nyetrika baju-baju yang juga telah menumpuk, keramas, potong kuku, maskeran, tilawah,dll.

Bismillah, semoga bisa istiqomah terus kek gini lagi. Harus semangat dong! Ada banyak orang di luar sana yang mengharapkanmu untuk sukses, yaitu keluargamu di kampung tercinta.😢💙

.

Jakarta, 7 Juli 2019 (22.06)

Persiapan Campreneur

Besok untuk yang kedua kali dan yang terakhir kalinya, angkatanku akan mengadakan sebuah event bernama, “Campreneur” :’) Campreneur berasal dari dua kata. Yaitu ‘Camp‘ dan ‘Enterpreneur‘. Acara ini berlokasi di Curug Pangeran, Bogor.

Nggak terasa ini adalah event terakhir angkatan kami. Eh, nggak terakhir banget sih. Karena yang terakhir ada International Challenge di luar negeri. Yah, meskipun nggak disatuin di satu negara. Melainkan dibagi ke empat negara: Hongkong, Thailand, Malaysia, dan Singapura. Bisa jadi, campreneur ini bener-bener sebuah event terakhir dimana kami satu angkatan disatuin.

Aku belum tahu berapa jumlah kami persisnya (tapi perkiraan sekitar 150 orang). Karena yang tergabung di grup tidak benar-benar semuanya masih mahasiswa aktif. Ada di antara mereka yang sudah resign tapi masih tergabung dalam grup. Lucunya, dengar-dengar ada juga yang masih jadi mahasiswa aktif tapi tidak mau bergabung di grup.

Yuhuu campingg! 😆

Ngomong-ngomong, camping adalah kegiatan yang paling aku idam-idamkan sejak masih SD. Kalo jaman dulu mah, cuman anak pramuka yang melakukan camping. Dan dulu sialnya ketika aku masuk pramuka, camping tidak diadakan lagi, entah kenapa.

Di kampusku yang sebelumnya sebenarnya juga ada kegiatan camping, hiking, dan semacamnya. Karena dulu pernah ikutan organisasi mapala(Mahasiswa Pecinta Alam). Dan aku mengundurkan diri karena ga kuat(ampun haha). Latihan fisiknya itu loh, masyaallah. Yang pernah ikut mapala pasti paham.

Aku baru merasakan serunya camping ketika kuliah di Kampus Bisnis Umar Usman. Ngga melulu belajar bisnis, di sini juga ada agenda camp di awal tahun ajaran baru dan di akhir tahun menjelang kelulusan.

Ini adalah potret lokasi kami camp. 🙂

Balong Indah, Bogor

Lokasi ini kami sewa untuk camp 🙂

Perlengkapan yang disiapkan:

Rundown acara:

Menginapnya hanya satu malam. Malemnya api unggunan sambil bakar-bakar hihi. Bismillah. Semoga besok lancar.😊

.

Jakarta, 27 Juni 2019 (21.34)

Kiriman Merchandise dari Skippy

Yeay! Seneng banget kiriman dari Skippy udah dateng wkwkw. Terima kasih Skippy!

Satu bulan yang lalu, ada kompetisi menulis yang diadakan oleh @bloggerperempuan. Yah, meskipun bukan aku pemenangnya, tapi seneng dan bersyukur banget untuk yang pertama kalinya aku berhasil mengalahkan ego, rasa malas, dan bisa menyelesaikan tantangan tersebut sampai selesai. Alhamdulillah. Benar-benar pengalaman dan tantangan yang baru buat aku.

Skippy adalah satu satu brand yang mensponsori kompetisi ini. Salah satu tema yang harus ditulis dari tantangan menulis 30 hari adalah membuat resep yang salah satu bahannya selai kacang skippy. Uang buat beli selai kacang akan diganti sebesar Rp50.000 dan bagi 200 submission pertama berhak mendapat merchandise dari Skippy.

Awalnya aku bingung dimana harus mencari selai kacang yang langka ini. Sampe lari-larian dari satu toko ke toko yang lain, taunya ada di Indomaret dong. Wkwkw. Tinggal 2 toples aja dan langsung kubawa salah satunya ke kasir. Harganya Rp27.000.

Untuk rasanya, selai kacang ini creamy, manis, lembut dan ada gurih-gurihnya gitu. Enak banget. Memang manis, tapi ngga bikin eneg. Paling suka makan selai ini langsung ga ada tambahan bahan yang lain.

Misal kalo makan roti, rotinya dimasukin mulut dulu, baru selainya. Kalo minum susu, ya susunya dituangin ke mulut dulu baru selainya. Wkwkw. Menurutku ini adalah cara terpraktis dan terenak menikmati selai kacang skippy. Kalau sudah tercampur terkadang kurang menikmati esensi dari keunikan selai kacang skippy.

Btw, aku suka banget sama kotak nasinya. Kecil, simple, ramping dan ga bikin tas aku gendut. Dari segi kualitas dan bentuk pun oke. Terima kasih Skippy! 😊

.

Jakarta, 27 Juni 2019 (13.55)

Sekolah Pemasaran

Ada dua buah bisnis yang aku ikutsertakan untuk konseling di kampus. Yaitu bisnis durian dan bisnis tulisan . Nah, enaknya sekolah bisnis itu seperti ini. Nggak cuma sekedar ikut kelas teori aja, namun kita juga mendapat fasilitas coaching tiap dua minggu sekali di semester dua atau semester terakhir menjelang kelulusan.

Kelasnya dibagi-bagi. Satu kelas pun cuma berisi 5-10 orang aja dan tiap kelas berbeda-beda dosen dan waktunya. Ada yang mulai jam 8 pagi, jam 10, jam 1 siang, jam 4 sore. Kalau lagi molor, dan kamu kebetulan dapat kelas sore, sampai tengah malam mau curhat pun bakal dijabanin. Haha…

Seperti aku dulu yang kebetulan mendapat giliran terakhir. Sejak abis Isya, sesi curhatku berakhir di jam 10 malam.. wkekke…dan aku baru sadar kalau aku konseling terlama dan terakhir pula di kampus. Padahal rata-rata mahasiswa coaching selama 15 menit doang. Dan normalnya, sebelum maghrib seharusnya sesi coaching sudah berakhir.

Hehe. Iya, itu dulu. Jaman-jamannya galau menentukan arah hidup dan arah bisnis mau dibawa kemana. Yang pasti aku bersyukur banget bisa kuliah di kampus ini. Sebuah kampus yang legend banget menurut aku. Dan katanya kampus motivator, karna si empunya adalah motivator 5 benua yaitu mas Ippho Santosa.

Aku sebut kampus ini adalah kampus pemasaran. Alih-alih menyuruh mahasiswanya untuk create produk, hal pertama yang sangat ditekankan di sini adalah, kita semua harus pandai di bidang pemasaran terlebih dahulu. Baru setelah itu merambah ke ranah produksi, finance, management operasional, SDM dll. Karena pemasaran/marketing adalah ujung tombak jalannya bisnis kita.

Kalau kita bisa membuat produk yang terbaik tapi tidak bisa memasarkan ya percuma. Itulah betapa pentingnya ranah pemasaran ini. Jika kita sudah pandai dalam ranah pemasaran, maka produk apa saja bisa kita jual dengan mudah.

Aku jadi teringat kata-kata bang Robert a.k.a pebisnis sekaligus penulis terkenal asal Amerika Serikat yaitu Robert T Kiyosaki. Kalau sekolah terbaik menurutnya adalah sekolah pemasaran. Di sanalah asal mula bang Robert bisa sukses seperti sekarang ini. “Kita tidak harus membuat produk yang terbaik, tapi kita harus terbaik dalam hal pemasaran”..

Note: Buat kalian yang tertarik dan berminat kuliah di sini, silahkan screenshoot dan hubungi nomor di bawah ini ya.:) Semoga beruntung!

.

📍Jakarta, 27 Juni 2019 (12.39)

Ngobrolin Durian

durian-montong

Kemarin aku sempet hectic banget gara-gara stok durian kosong sampai 1 minggu lamanya. Rasanya, udah kaya ga semangat jualan lagi. Gara-gara stok durian dari pusatnya sedang kosong. Stok yang di toko pun baru saja diborong abis sama reseller sebanyak puluhan box.

Minggu kemarin durian montong bener-bener langka. Aku coba cari supplier lain yang ada di Jakarta, dan ternyata emang lagi kosong. Bahkan ada penjual durian montong terkenal yang fokusnya beralih ke produk durian Medan olahan, bukan montong lagi.

Disandingkan durian Medan yang sangat terkenal dengan kelezatannya, ada lagi durian yang tak kalah endolita, yaitu Durian Montong Parigi. Konon katanya, ada seorang petani durian yang iseng menyilangkan durian montong khas Sulawesi yang rasanya lezat dengan durian montong Thailand yang terkenal dengan ukurannya yang besar. Alhasil, jadilah Durian Montong Parigi yang besar buahnya dan lezat rasanya. Petani durian yang juga seorang dokter ini akhirnya pun mendulang banyak rupiah berkat kebun duriannya yang sangat diminati pasar di seluruh Indonesia. Bahkan pendapatan yang dihasilkan dari bercocok tanam durian lebih besar dibandingkan hasil kerjanya menjadi dokter. Sungguh luar biasa bukan? Sekarang beliau pun memperkerjakan banyak orang karyawan untuk membantunya dalam berbisnis durian montong ini.

Harga durian montong memang sedikit lebih mahal dengan harga durian biasa di pasaran. Tapi Insyaallah sepadanlah ya dengan rasanya. Hehehe.

Kalau di kampung halamanku, Tulungagung-Trenggalek, buah durian juga tumbuh subur. Tapi bukan jenis durian montong parigi atau durian montong thailand. Harganya dibanderol dengan sangat amat murah meriah. Ada yang 5.000, 10.000, 30.000, di bawah 50.000 lah ya. Jadi aku pikir, berjualan durian jenis ini belum tentu laku di sana. Karena memang pendapatan perkapitanya masih di bawah rata-rata. Berbeda dengan di Jakarta, jual apa aja bisa laku dengan strategi marketing yang benar hehe. Itulah yang menjadi alasan kenapa aku mau menekuni bisnis ini di Jakarta selepas kuliah, bukan di kampung halamanku. Bagi orang desa, sekotak durian seharga 80.000 terbilang mahal. Nah, kalau di Jakarta, menjual sekotak durian 80.000 bisa semudah menjual kacang goreng(aamiin, hehe). Logikanya, ya siapa sih yang nggak suka durian? Hampir semua orang di Indonesia menyukai buah berduri tajam ini.

Kenapa lebih memilih menjual produk mahal? Bilang saja mahal ya. Aku udah survey kepada beberapa kerabat di kampung, tentang pendapat mereka dengan harga durian daganganku. Kata mereka, harganya sangat fantastis. Bahkan ada yang nggak percaya, dikiranya aku salah nulis harga, hehehe.

Sebenarnya aku pun sama sekali tidak menawarkan daganganku kepada mereka. Sama sekali tidak. Mereka sendiri yang akhirnya kepo dengan statusku dan memesan. Aku bahkan sudah menjelaskan kalau mengirim durian jarak jauh menggunakan kereta itu beresiko. Tapi mereka tetap keukeuh ingin membeli. Akhirnya aku pun pasrah. Membawa buah durian beku secukupnya. Sebagian untuk oleh-oleh orang di rumah, sebagian untuk tetangga, dan sisanya untuk saudara yang memesan. Eh bukan sisa sih.

Tapi Alhamdulillah, durian mendarat dengan selamat sampai di rumah. Meskipun berada di kereta mulai tenggelamnya matahari sampai terbit lagi, wkwk. Cara mengawetkannya bagaimana?

Caranya gampang banget. Tinggal dipacking dengan styrofoam tebal lalu direkatkan menggunakan lakban berlapis. Selain itu, tambahkan sebongkah es batu ukuran sedang untuk menjaga suhu udara tetap dingin. Kira-kira sampai rumah es batunya mencair nggak ya?

Kalau suhu normal, logikanya selama 16 jam si es batu pasti mencair. Tapi ternyata sebongkah es batu yang dimasukkan ke dalam styrofoam tsb masih utuh! WOW! Dari sini aku mendapat kesimpulan dan benar-benar percaya. Bahwa durian bisa didistribusikan ke berbagai kota di Indonesia menggunakan styrofoam. Bisa melalui jalur darat, bisa melalui jalur udara juga. Kami sendiri memasok durian ini dari asalnya langsung yaitu Kota Parigi Moutong, Sulawesi Tengah menggunakan kargo pesawat.

Kata dosen aku, jualan barang mahal sama barang murah itu sama capeknya. Tapi buat kamu kalau ingin cepat sejahtera hidupnya, berjualanlah sama orang kaya.

Pertanyaannya, kalau nggak punya channel orang kaya gimana ya?

Nah, di sinilah peran internet marketing dibutuhkan. Kabarnya, saat ini gerai-gerai toko ataupun mall sudah mulai tutup, dan transaksi jual beli online makin ramai dikunjungi dari tahun ke tahun khususnya oleh para generasi millenial.

For your information, jualan sama orang kaya itu enak. Mereka nggak suka nawar harga, apalagi untuk produk makanan. Mereka juga nggak mikirin mahalnya ongkir atau mikirin rekening bank kita yang berbeda dengan mereka. Karena yang paling penting buat mereka adalah, bisa menikmati lezatnya sekotak durian bersama keluarga tercinta. []

durian.jpg

Note: Durian adalah sefruit contoh produk yang target marketnya kelas menengah ke atas. Usia 25-34th, atau keluarga-keluarga muda yang sudah mulai memiliki penghasilan tetap dan baru mempunyai anak satu atau dua yang masih kecil. Ingin menjual apa dan dimana, itu kembali lagi kepada Anda.

.

Jakarta, 26 Juni 2019 (11.13)

Alasan Kenapa Memilih Menjual Barang daripada Menjual Jasa

pexels-photo-870902.jpeg
Photo by rawpixel.com on Pexels.com

Sebenarnya, berdagang atau berjualan bukanlah passion saya. Lebih daripada itu, saya lebih menyukai menulis. Tapi saya tidak bisa mengkomersilkan menulis itu sendiri. Bagi saya, hobi adalah hobi. Kalaupun mendapat uang dari menulis, itu adalah bonus. Tapi saya tidak mau menjual skill saya yang satu ini. Meski dosen saya menyarankan saya untuk menjadi copywriter, entah kenapa saya merasa berat. Ketika ada teman yang meminta bantuan untuk menulis artikel, saya juga merasa berat.

Kira-kira kenapa ya?

Apa ada yang salah dengan saya?

Saya pertama kali menulis adalah sejak kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah(setara dengan SD), dan tulisan saya dimuat di beberapa majalah anak-anak kegemaran saya waktu itu. Entah berapa tulisan yang saya kirimkan di banyak media, meski sering tidak dimuat tak membuat saya menjadi patah semangat. Karena kegiatan itu nyatanya mengasikkan. Menulis dan mengirimkan sendiri tulisan di kantor pos, adalah hobi yang saya sukai waktu itu ketika belum mengenal dunia internet seperti sekarang.

Saya hanya menulis ketika mood saya sedang bagus dan menguasai bidang apa yang saya tuliskan. Mungkin ide cerita ada banyak, namun membangun mood untuk menulis itu yang paling sulit.

Menulis menjadi sesuatu yang sangat mengerikan bagi saya ketika dipaksa. Jadi saya memutuskan untuk berjualan produk saja ketimbang menjual tulisan. Tetapi, meski demikian sesekali saya selalu menyempatkan untuk menulis entah itu di blog atau di buku jurnal seperti dulu. Semacam ada kepuasan batin setiap setelah saya merampungkan tulisan saya.

Merujuk kepada salah satu hadist Rasulullah SAW bahwa, “9 dari 10 pintu rezeki adalah melalui perniagaan (perdagangan)”. Maka saya memutuskan perniagaan adalah prioritas utama saya untuk mencari rezeki. Penghasilan yang didapat dari jual beli bisa bisa dilipatgandakan dengan beberapa strategi tertentu. Berbeda dengan menjual jasa, kalau kita ingin mendapat penghasilan lebih, maka usaha kita juga harus lebih. Get the point? Yah, ini menurut saya saja ya. Hehehe. Bagaimana menurutmu?:)

.

Jakarta, 23 Juni 2019 (18.54)